Wayan Paramartha dalan Ten Made

Aku Di Depan
150x200 Cm, Oil on Canvas, 2010

Tak Akan Usai
120x120 Cm x 4 Panels, Oil on Canvas, 2010

Lost in S'pore
150x200 Cm, Oil on Canvas, 2010

Karya Wayan Paramartha

Lahir di Sanur / 22 September 1974
Pendidikan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar

Pameran Tunggal :
2007
Pameran di American Club Singapore.

2004
Pameran A Distant Charm, di Gajah Gallery Singapore.

Pameran Bersama :
2009
Pameran Namaku Tanah Tho, di Tanah Tho gallery Ubud Bali
Pameran Expectation Confirmation, di Tonyraka Art Gallery Bali

2008
Pameran Green Sanur Village Festival, di Segara Beach Sanur

2007
Pameran Artmosphere Sanur Village Festival, di Darga Gallery Sanur.

2006
Pameran Panorama, di Ganesha Gallery Jimbaran Bali.
Pameran Unlimited, di Danes Art Veranda Denpasar.
Pameran Bali in Contemplation, di O House Gallery Jakarta.
Pameran Angkor-The Djin Within, di Gajah Gallery Singapore.
Pameran Jago, di Niki Gallery Ubud.

2005
Pameran 10 fine Art, di Melbourne Art Show Australia

2004
Pameran The Journey Himpunan Pelukis Sanur, di Museum Puri Lukisan Ubud.
Pameran 10 Artist Introduce Themselves, di 10 Fine Art Sanur.
Pameran Drawing New Harmony II, di Rare Angon Gallery Sanur.
Pameran Mosaik Himpunan Pelukis Sanur, di Santrian Gallery Sanur.

2003
Pameran Epic, di Gajah Gallery Singapore.
Pameran New Harmony, di Rare Angon Gallery Sanur.
Pameran BIG Perupa Dalam 16, di Art Center Denpasar & Santrian Gallery Sanur.

2002
Pameran Himpunan Pelukis Sanur – Soft Opening Santrian Gallery, di Santrian Gallery Sanur.
Pameran Pesta Kesenian Bali XXIV, di Art Centre Denpasar.

2001
Pameran Himpunan Pelukis Sanur, di Balairung Dewi Sri Exhibition Hall Garuda Wisnu Kencana – Jimbaran.
Pameran Sesari Kutanews, di Gedung Titik Dua Tohpati Denpasar.

1999
Pameran Angkatan ‘95 STSI Denpasar, di Ayuk’s Gallery Batuan.
Pameran Myth and Mystique, di American Club Singapore.
Pameran Kelompok Kangin Kauh, di Art Centre Denpasar.

1998
Pameran Refleksi Seni ‘98, di Darga Gallery Sanur.
Pameran Hut V Kamasra STSI Denpasar, di Sahadewa Gallery Batuan.
Pameran Parade Pelukis Bali, di Bali Hyatt Hotel Sanur.

1997
Pameran Four Indonesian Artists, di Gajah Gallery Singapore.
Pameran Dies Natalis STSI Denpasar, di STSI Denpasar.

1996
Pameran Kamasra STSI Denpasar, di Bali Cliff Resort - Jimbaran.
Pameran Hut III Kamasra STSI Denpasar, di STSI Denpasar.
Pameran A Celebration Of Culture, di Alliance Francaise Singapore.
Pameran Karya Finalis Philip Morris - Indonesian Art Awards III, di Gedung Sekretariat ASEAN Jakarta.

1995
Pameran Hut II Kamasra STSI Denpasar, di STSI Denpasar.
Pameran Himpunan Pelukis Sanur, di Gabrig Art Gallery Sanur.

1994
Pameran SMSR Negeri Denpasar, di Art Centre Denpasar.

Penghargaan :

1997
Penghargaan Sketsa Terbaik Hut IV Kamasra dari Kamasra STSI Denpasar.
1996
Penghargaan Karya Terbaik Lomba Lukis Pariwisata dari Kanwil X Depparpostel Bali.
1995
Penghargaan Karya Terbaik Lomba Lukis Wisata Remaja dari Kanwil X Depparpostel Bali.
1994
Penghargaan Karya Terbaik Dalam Seni Lukis Modern dari SMSR Negeri Denpaasar.
1987
Penghargaan Karya Terbaik Dalam Lomba Lukis Denpasar
Read more

V Dedy Reru dalam Ten Made

John Lennon & Friends #5
150x120 Cm, Oil on Canvas, 2009

John Lennon & Friends #8
150x120 Cm, Oil on Canvas, 2010

John Lennon & Friends #7
150x120 Cm, Oil on Canvas, 2009

On The Stage
150x120 Cm, Oil on Canvas, 2010

Karya V Dedy Reru
Lahir di Denpasar,15 Februari 1973
Pendidikan di ISI Denpasar (2003-2006)

Pameran tunggal
2007 Bali Revisited di Roemah Roepa Jakarta
2008 Legacy Of The Future di 10 Fine Art Sanur

Pameran bersama

1993 Bersama SMSRN Denpasar di Museum Bali Denpasar
1995 Drawing Show di ,Dynasti Hotel Kuta
1997 Potrait di Malibu pub Lovina Singaraja
2000 Lima Warna di Rare Angon Galeri sanur
2001 Bersama Nyama Braya di Ajis Galeri Ubud
2002
Bersama Poleng Kesiman di Cottage Frame Denpasar
Bersama Perupa dalam 16 di Art Centre Denpasar
Paradise Youth Activity di RRI Denpasar

2003
BIG di Art Centre Denpasar
New Harmony di Rare Angon Galeri Sanur
Saraswati Dalam Imaji di Nandya Galeri ubud

2004
"OHH"di Sudana Galeri Ubud
Drawing New Harmony II di Rare Angon Galeri Sanur
Bersama ISI Denpasar di Museum Sidik Jari Denpasar
Satu Malam di Griya Santrian Galeri Sanur
10 Artist Introduce Themselves di 10 Fine Art Sanur

2005
Painting The Sky By The Kite di Guet Galeri Sanur
Indonesian Kite di Museum Jakarta
Bukit Layang Layang di Johor Malaysia
Bersama 10 Fine Art di Melbourne Artshow Australia
Bersama 10 fine art di Hogaart Collection Australia
Simple is Beauty di Guet Galeri Sanur
Scane of Nature di Jenggala Ceramik Jimbaran
Brikolase di 10 Fine Art Sanur

2006
Jago di Niki Galeri Ubud
Berdua di Montiq Galeri Jakarta
Sanur Village Festival di10 Fine Art Sanur
Unlimited di PoPo Danes Art Veranda Denpasar
Panorama di Ganesha Galeri Four Season Jimbaran

2007
Artmosphere di Darga Galeri Sanur
Shanti-Shanti Bali di Borobudur Hotel Jakarta

2008 Green di Segara Beach Sanur
2009 Golden Box #3 di Jogja Galeri Jogjakarta
2010 Ten Made di Tujuh Bintang Art Space Yogyakarta
Read more

I Wayan Apel Hendrawan dalam Ten Made

Menari dalam Api
180x140 cm, Oil on Canvas, 2010

Trance '35'
100x140 Cm, Oil on Canvas, 2010

Irama Laut
120x140 Cm, Oil on Canvas, 2010

Karya I Wayan Apel Hendrawan
Lahir di Sanur,29 Mei 1974
Pendidikan Bali Art Design School

Pameran
1995
Bersama HPS di Gabrig Galeri Sanur

2001
Bersama HPS di GWK Jimbaran
Bersama Gabrig di Amerika ( Miami,florida,dsb)
Bersama di Gedung Mario Tabanan
Pameran Gelar dua Budaya Indonesia Jepang bersama Bunga-Bunga Bali di Kuta Centre Bali

2002
Bersama HPS soft opening Griya Santrian Galeri Sanur
Bersama Perupa Dalam 16 di Gabrig galeri Sanur

2003
BIG di Art Centre Denpasar dan Griya Santrian Galeri Sanur
New Harmony di Rare Angon galeri Sanur
Pesta Kesenian Bali XXV di art Centre Denpasar

2004
'Mosaik' di Griya Santrian Galeri Sanur
Drawing New Harmony II di Rare Angon Galeri Sanur
Satu Malam di Griya Santrian Galeri Sanur
10 Artist Introduce Themselves di 10 Fine Art Sanur

2005
Painting The Sky By The Kite di Guet Galeri Sanur
Pameran Indonesia Kite Museum Jakarta
Pameran Bukit Layang Layang di Johor Malaysia
Bersama 10 fine Art di Melbourne Art Show Australia
10 Fine Art di Hogaart Collection Australia
Brikolase di 10 Fine Art Sanur

2006
Jago di Niki Galeri Ubud
Sanur Village Festival di 10 Fine Art Sanur
Bersama 10 Fine Art di Popo Danes Art Veranda Denpasar
Bersama 10 Fine Art di Ganesha Galeri Four Season Jimbaran

2007
Pameran bersama di O House Jakarta
Sanur Village Festival di Darga Galeri Sanur
'IBUMI" di GWK Jimbaran

2008
Green di Segara beach Sanur

2010
Optimism di Sector Sanur
Ten Made di Tujuh Bintang Art Space Yogyakarta
Read more

I Wayan Muliastra dalam Ten Made

Terpancing
150x200 cm, Mixed Media on Canvas, 2010
Bersarang di Kepala
100x130 cm, Acrylic On Canvas, 2010

Tak Bisa Menjerit
180x140 cm, Mixed Media on Canvas, 2008

Charge
100x120 cm, Mixed Media On Canvas, 2009

Karya I Wayan 'Anyon' Muliastra
Lahir Denpasar, 18 September 1975
Pendidikan STSI Denpasar

Pameran
1994
Pameran bersama SMSRN Denpasar di Batubulan

1995
Pameran Alumnus SMSR di Art Center Denpasar

1996
Pameran bersama Kamasra di Bali Cliff resort Jimbaran
Pameran 3 Thn Kamasra di STSI Denpasar
Pameran bersama kelompok Kangin Kauh di Kuatro galeri Kuta

1997
Pameran bersama Dies Natalis STSI Denpasar

1998
Pameran Refleksi Seni 98 di Darga galeri

1999
Pameran bersama angkatan 95 di Ayuk galeri Batuan
Pameran bersama kelompok Kangin Kauh di Art Center

2000
Pameran Philip Morris Art Awards 2000 di Galeri Nasional Jakarta

2001
Pameran bersama kelompok Satu lima di BIG galeri Ubud
Pameran bersama di Bizette galeri Jakarta

2002
Pameran bersama kelompok Satu Lima di Bizette galeri Jakarta
Pameran bersama kelompok Satu Lima di Koi galeri Jakarta

2003
Pameran bersama Perupa dalam 16 di gabrig galeri
Pameran bersama Perupa dalam 16 di Art Center
Pameran bersama Perupa dalam 16 di Griya Santrian galeri
Pameran bersama Reality and Identity di Kiri Desa galeri Singapore
Pameran bersama Small and Beautiful di Kiri Desa galeri Singapore

2004
Pameran tunggal Painting and Seeing di Sudana galeri
Pameran Satu malam di Griya Santrian galeri
Pameran 10 Artist Introduce Themselves di 10 Fine Art Sanur

2005
Pameran bersama 10 fine Art di Melbourne Art Show Australia
Pameran 10 Fine Art di Hogaart Collection Australia

2006
Pameran Jago di Niki Galeri Ubud
Pameran Sanur Village Festival di 10 Fine Art Sanur
Pameran bersama 10 Fine Art di Popo Danes Art Veranda Denpasar
Pameran bersama 10 Fine Art di Ganesha Galeri Four Season Jimbaran

2007
Pameran bersama di O House Jakarta
Pameran Sanur Village Festival II di Darga Galeri Sanur
Pameran bersama 'IBUMI" di GWK Jimbaran

2008
Pameran Green di Segara beach Sanur

2010
Ten Made Di Tujuh bintang Art Space
Read more

I Made Sukadana dalam Ten Made

Menyelam di Padang Pasir
145x170 cm, Acrylic on Canvas, 2010

Unta dan Padang Rumput
170x145 cm, Acrylic on Canvas, 2010

Smoking
145x170 cm, Acrylic on Canvas, 2010

Karya I Made "Romi" Sukadana

Lahir di Denpasar, 22 Januari 1973
Pendidikan STSI Denpasar

PAMERAN TUNGGAL
2001 Pameran Tunggal “Sides of Woman” di Paros Gallery
2007 Pameran Tunggal “Dialogue with the Reality” di Kamandalu Resort, Ubud
2009 Pameran Tunggal “Sebuah Nama” di Ten Fine Art, Sanur

PAMERAN
1993 Pameran Tugas Akhir SMSRN Denpasar
1995 Pameran 2th KAMASRA STSI Denpasar
Pameran Bersama STSI Denpasar di Camberra Australia
1996 Pameran 3th KAMASRA STSI Denpasar
1997 Pameran Angkatan ’94 STSI Denpasar di Art Center Denpasar
Pameran Benda Seni & ½ Seni di Joger Kuta
1998 Pameran Angkatan ’94 di Taman Budaya Lombok
Pameran Refleksi 98 Darga Gallery Sanur
1999 Pameran Tugas Akhir STSI Denpasar
2000 Pameran HIMPESTRADA di Museum Bali
2001 Pameran “SESARI” di Gedung Titik Dua Denpasar
Pameran Imajinasi dan Warna di Bizete Gallery Jakarta
Pameran “Oriental” Bersama Kelompok ‘5 di Art Center Denpasar
2002 Pameran Bersama Sanggar Poleng di Cotages Fremes Denpasar
Pameran “Unity” Bersama Perupa 16 di Gabrig Gallery sanur
Pameran “Small” di Paros Gallery
2003 Pameran “TAI BLACK” Tanah Air Indonesia Hitam di STSI Denpasar
Pameran “BIG” Bersama Perupa 16 di Art Center & Santrian Gallery sanur
Pameran “New Harmony” Rare Angon Gallery sanur
Pameran Bersama “Small & Beautiful” Kiridesa Gallery, Singapura
2004 Pameran “New Harmony II” Drawing, di Rare Angon Gallery, Sanur
Pameran “OH!! di K Sudana Gallery, Ubud
Pameran Ten Artist Introduce Themselves di 10 Fine Art, Sanur
2005 Pameran Seni Lukis & Arsitektur di Santrian Gallery, Sanur
Pameran & Art show Bersama 10 Fine Art di Hogart Collection, Melbourne, Australia
Pameran Bersama “Simple is Beauty” di Guet Fine Art Sanur
Pameran Bersama “BRIKOLASE” di 10 Fine Art Sanur
2006 Pameran Bersama “JAGO” di Niki Gallery Ubud
Pameran “Unlimited” Bersama 10 Fine Art di Popo Danes Art Veranda
Pameran “Panorama” Bersama 10 Fine Art di Ganesa Gallery Four Season, Jimbaran
2007 Pameran Bersama “Me Between Us” di Tony Raka Art Gallery, Ubud
Pameran Bersama “I BUMI” di GWK Jimbaran
2008 Pemeran Bersama “Entitas Nurani” di Art Centre Denpasar
Pameran Bersama Sanur Village Festival 2008 “Green” Segara Beach Sanur
2010 Pameran Bersama “Optimism 2010” di Maha Art Gallery, Sanur
Read more

I Made Astawa dalam Ten Made

I Love This
145x170 cm, Acrylic & Oil on Canvas, 2010

Size Does'nt Matter II
140x160 cm, Oil on Canvas, 2010
Illusion
200x135 cm, Oil on Canvas, 2010

Karya I Made'Dollar'Astawa
Lahir di Gianyar,22 Agustus1972
Pend SMSR N Denpasar

Pameran
1991 Pameran bersama Sanggar Giri Kusuma di Museum Bali
1992 Pameran bersama SMSRN Denpasar di Batubulan
1993 Pameran bersama kelompok 35 di Museum Bali
1994 Pameran bersama kelompok 35 di Museum Bali
2001 Pameran bersama HPS di GWK Jimbaran
Pameran Lima Warna di Rare Angon Galeri Sanur
2002 Pameran bersama HPS soft opening Griya Santrian galeri Sanur
Pameran bersama Perupa Dalam 16 di Art Centre Denpasar
2003 Pameran BIG di Art Centre Denpasar dan Griya Santrian galeri Sanur
Pameran New Harmony di Rare Angon galeri Sanur
Pameran Pesta Kesenian Bali XXV di art Centre Denpasar
2004 Pameran 'Mosaik' di Griya Santrian galeri Sanur
Pameran Drawing New Harmony II di Rare Angon galeri Sanur
Pameran Satu Malam di Griya Santrian Galeri Sanur
Pameran 10 Artist Introduce Themselves di 10 Fine Art Sanur
2005 Pameran Painting The Sky By The Kite di Guet Galeri Sanur
Pameran Indonesia Kite Museum Jakarta
Pameran Bukit Layang Layang di Johor Malaysia
Pameran bersama 10 fine Art di Melbourne Art Show Australia
Pameran 10 Fine Art di Hogaart Collection Australia
Pameran Brikolase di 10 Fine Art Sanur
2006 Pameran Jago di Niki Galeri Ubud
Pameran bersama di Montiq Galeri Jakarta
Pameran Sanur Village Festival di 10 Fine Art Sanur
Pameran bersama 10 Fine Art di Popo Danes Art Veranda Denpasar
Pameran bersama 10 Fine Art di Ganesha Galeri Four Season Jimbaran
2007 Pameran Sanur Village Festival di Darga Galeri Sanur
Pameran bersama 'IBUMI" di GWK Jimbaran
2008 Pameran Green di Segara beach Sanur
Read more

I Made Budiadnyana dalam Ten Made

Potret Keluarga
140x100 cm, Acrylic On Canvas, 2010

Wajah Abstrak
120x100 cm, Acrylic On Canvas, 2010

Figur Abstrak
100x140 cm, Acrylic On Canvas, 2010

Karya I Made Budiadnyana
Pendidikan STSI Denpasar

Pameran

1993 Pameran bersama SMSR N Denpasar di Batubulan.
1994 Pameran bersama alumnus SMSR di Art Centre Denpasar.
1995 Pameran bersama KAMASRA di Bali Art Festival, Denpasar
1996 Pameran bersama Ngulat Taksu group di Museum Sidik Jari Denpasar.
1997 Pameran bersama Gores 94 group di Kemuda Sari Art Gallery Ubud.
1998 Pameran bersama KAMASRA di Canberra.
1999 Pameran bersama 100 finalists Competition Art Painting Philip Morris di Galeri Nasional Jakarta.
2000 Pameran bersama artist Nyoman Tusan di Gallery 9 Ubud.
Pameran bersama Sesari Kuta News di Gedung Titik Dua di Denpasar.
2001 Pameran bersama Tamasya Imagination di INA Gallery Jakarta.
2002 Pameran bersama Sanggar Poleng Kesiman di Cottage Frame, Denpasar.
2003 Pameran bersama Galang Kangin Esthetic and Nature di Grya Santrian Gallery Sanur.
2004 Pameran bersama 10 Artist Introduce Themselves di 10 Fine Art Sanur.
2005 Pameran bersama 10 Fine Art di Melbourne Art Show Australia
Pameran bersama 10 Fine Art di Hogart Collection Melbourne, Australia.
2006 Pameran bersama Galang Kangin di Millennium Gallery, Jakarta.
Pameran berdua di Montiq Gallery Jakarta.
Pameran bersama 10 Fine Art di Popo Danes Art Veranda Denpasar.
Pameran bersama 10 Fine Art di Four Seasons Resort Jimbaran, Bali.
Pameran bersama Galang Kangin “Triumph and Defeat” di Taman Budaya Yogyakarta
2007 Pameran Sanur Village Festival di Darga Galeri Sanur
2008 Pameran Green di Segara Beach Sanur
Read more

I Ketut Teja Astawa dalan Ten Made

Patroli in The Village
200x140 cm, Acrylic on Canvas, 2010

Karya I Ketut Teja Astawa
Lahir di Sanur,1 maret 1971
Pendidikan STSI Denpasar

Pameran

1991
Pameran di Museum Ratna Warta Ubud

1992
Pameran bersama kelompok Lanjalan Ubud
Pameran Dies Natalis di STSI Denpasar

1993
Pameran di Art Centre Denpasar
Pameran Peksiminas di STSI Denpasar

1994
Pameran Seni Masa Kini di STSI Denpasar
Pameran di Musum Sidik Jari Denpasar

1995
Pameran di Museum Seni Lukis Klasik Nyoman Gunarsa

1996
Pameran kelompok Sebelas di Darga galeri Sanur

1997
Pameran kelompok Sebelas di Art Centre Denpasar
Pameran Amanda Tour Kuta

1998
Pameran di Canberra Sidney Australia
Pameran Refleksi seni 98 di Darga galeri Sanur

2000
Pameran Refleksi seni II di Darga galeri Sanur

2001
Pameran Taksu Bali di Galeri 678 Jakarta
Pameran Rupa bali Kontemporer di Bentara Budaya jakarta
Pameran What II di Galeri Sembilan Ubud
Pameran bersama HPS di GWK Jimbaran

2002
Pameran bersama HPS soft opening Griya Santrian Galeri Sanur
Pameran bersama Perupa Dalam 16 di Gabrig Galeri Sanur

2003
Pameran Tai Black di STSI Denpasar
Pameran BIG di Art Centre Denpasar dan Griya Santrian Galeri Sanur
Pameran New Harmony di Rare Angon Galeri Sanur
Pameran Pesta Kesenian Bali XXV di Art Centre Denpasar

2004
Pameran 'Mosaik' di Griya Santrian Galeri Sanur
Pameran Drawing New Harmony II di Rare Angon Galeri Sanur
Pameran Satu Malam di Griya Santrian Galeri Sanur
Pameran 10 Artist Introduce Themselves di 10 Fine Art Sanur
Pameran di Swissotel The stamford Singapore
Pameran Bali to Bali Sin Jun galeri Singapore
Pameran HPS di Museum Puri Lukisan Ubud
Pameran berdua Art As Self Expression di Griya Santrian Galeri Sanur

2005
Pameran Painting The Sky By The Kite di Guet Galeri Sanur
Pameran Indonesia Kite Museum Jakarta
Pameran Bukit Layang Layang di Johor Malaysia
Pameran bersama 10 fine Art di Melbourne Art Show Australia
Pameran 10 Fine Art di Hogaart Collection Australia
Pameran Brikolase di 10 Fine Art Sanur

2006
Pameran Jago di Niki Galeri Ubud
Pameran Sanur Village Festival di 10 Fine Art Sanur
Pameran bersama 10 Fine Art di Popo Danes Art Veranda Denpasar
Pameran bersama di O House Galeri Jakarta
Pameran bersama 10 Fine Art di Ganesha Galeri Four Season Jimbaran

2007
Pameran Sanur Village Festival di Darga Galeri Sanur
Pameran bersama 'IBUMI" di GWK Jimbaran

2008
Pameran Green di Segara beach Sanur

2010
Pameran Ten Made di Tujuh Bintang Art Space Yogyakarta
Read more

AA Ngurah Paramartha dalam Ten Made

Women
130x 150cm Acriylc On Canvas 2010

Flying
150x180 cm Acrilc On Canvas 2009

With Cat
100x140cm Acrylic On Canvas 2010

Karya A.A Ngurah Paramartha
Lahir di Denpasar, Oktober 1974
Pendidikan STSI Denpasar

Solo Exhibition:
2003:
'Hasrat Rahasia', Hide Out Fine Art Ubud

Group Exhibitions:
2010: 'Ten Made', Tujuh Bintang Art Space, Yogyakarta

2009:
'Golden Box #3', Jogja Gallery, Yogyakarta
'Colour Wheel', Indonesian Artist at Dublin Irlandia

2008:
'Green', Segara Beach Sanur

2007:
'Sanur Artmosphere', Darga Gallery Sanur
'IBUMI', GWK Jimbaran

2006:
'Jago', Niki Gallery Ubud
'Sanur Village Festival', 10 Fine Art Sanur
'10 Fine Art', Popo Danes Art Veranda Denpasar
'10 Fine Art', Ganesha Gallery Four Season Jimbaran

2005:
'Painting The Sky By The Kite', Guet Gallery Sanur
'Indonesia Kite', Museum Jakarta
'Bukit Layang-Layang', Johor Malaysia
'10 Fine Art', Melbourne Art Show Australia
'10 Fine Art', Hogaart Collection Australia
'Brikolase', 10 Fine Art Sanur

2004:
'Satu Malam', Griya Santrian Gallery Sanur
'10 Artist Introduce Themselves', 10 Fine Art Sanur

2003: 'BIG', Art Centre Denpasar

2002:
Group Exhibition with Perupa Dalam 16, Gabrig Gallery Sanur

2001:
'Kelompok 5', Taman Budaya Denpasar
'Poleng Kesiman', Cottage Frame Denpasar
'Tai Black', STSI Denpasar

2000:
Tugas Akhir, STSI Denpasar
'Putra Bangsa', Puri Kesiman Denpasar
Read more

IB Putu Purwa dalam Ten Made

Bersama Bayangan
160 x 180 cm, Mixed Media on Canvas, 2010

Gerak 1,2,3
110 x 180 cm x 3 Panels, Mixed Media on Canvas, 2010

Lion
180 x 160 cm, Mixed Media on Canvas, 2010

Karya Ida Bagus Putu Purwa
Lahir di Sanur,1 Oktober 1977
Pendidikan STSI Denpasar

Pameran
2001
Pameran bersama HPS di GWK Jimbaran
Pameran Gelar dua Budaya Indonesia Jepang bersama Bunga-Bunga Bali di Kuta Centre Bali

2002
Pameran Trouble di Padang Linjong kerobokan Bali
Pameran bersama HPS soft opening Griya Santrian Galeri Sanur
Pameran dan Demontrasi di Apache Bar Kuta
Pameran bersama Perupa Dalam 16 di Art Centre Denpasar
Pameran Paradise Youth Activity di RRI Denpasar

2003
Pameran Tai Black di STSI Denpasar
Pameran BIG di Art Centre Denpasar
Pameran Lelakut di persawahan Peguyangan Denpasar
Pameran New Harmony di Rare Angon galeri Sanur
Pameran Pesta Kesenian Bali XXV di Art Centre Denpasar
Pameran Saraswati Dalam Imaji di Nandya Galeri Ubud

2004
Pameran Renungan Merah putih di monumen nasional margarana tabanan
Pameran 'Mosaik' di Griya Santrian Galeri Sanur
Pameran Drawing New Harmony II di Rare Angon Galeri Sanur
Pameran OHH!! Di Sudana Galeri Ubud
Pameran Satu Malam di Griya Santrian Galeri Sanur
Pameran 10 Artist Introduce Themselves di 10 Fine Art Sanur
Pameran di Swissotel The stamford Singapore
Pameran Bali to Bali Sin Jun galeri Singapore
Pameran HPS di Museum Puri Lukisan Ubud
Pameran berdua Art As Self Expression di Griya Santrian Galeri Sanur

2005
Pameran Painting The Sky By The Kite di Guet Galeri Sanur
Pameran Indonesia Kite Museum Jakarta
Pameran Bukit Layang Layang di Johor Malaysia
Pameran bersama 10 fine Art di Melbourne Art Show Australia
Pameran 10 Fine Art di Hogaart Collection Australia
Pameran Brikolase di 10 Fine Art Sanur

2006
Pameran Jago di Niki Galeri Ubud
Pameran Sanur Village Festival di 10 Fine Art Sanur
Pameran bersama 10 Fine Art di Popo Danes Art Veranda Denpasar
Pameran bersama di O House Galeri Jakarta
Pameran bersama 10 Fine Art di Ganesha Galeri Four Season Jimbaran

2007
Pameran Sanur Village Festival di Darga Galeri Sanur
Pameran berduadi Montiq Galeri Jakarta

2008
Pameran Green di Segara beach Sanur

2009
Pameran Hyperlinks Tujuh Bintang Art Space Yogyakarta

2010
Pameran Ten Made Tujuh Bintang Art Space Yogyakarta
Read more

Kuratorial Ten Made

TEN MADE
Tujuh Bintang Art SPace

PAMERAN seni rupa “Ten Made” menampilkan karya sepuluh pelukis yang tergabung dalam kelompok 10 Fine Art dari Sanur, Bali. Mereka adalah A.A. Ngurah Paramartha, I Ketut Teja Astawa, I Made Budi Adnyana, I Made Dollar Astawa, I Made Romi Sukadana, Ida Bagus Putu Purwa, I Wayan Apel Hendrawan, I Wayan Muliastra, I Wayan Paramartha dan Vinsensius Dedy Reru. Kelahiran kelompok ini ditandai dengan pameran kontroversial yang menampilkan lukisan lelaki telanjang, potret diri sepuluh anggota kelompok ini sendiri, pada 2004.

“Ten Made” dipilih sebagai judul pameran untuk menyatakan dua hal. Pertama, secara eksplisit, “Ten Made” berarti “buatan Ten”, bahwa karya-karya yang dipamerkan adalah ciptaan para perupa 10 Fine Art. Kedua, secara implisit, “Ten Made” berasosiasi dengan istilah populer “hand made” atau “buatan tangan”, sebagai pernyataan sikap kemandirian kreatif sepuluh anggota kelompok ini secara personal maupun komunal.

Meskipun bersinergi memadukan kekuatan dalam satu kelompok, para perupa 10 Fine Art tetap mempertahankan visi kreatif dan gaya lukis masing-masing. Karya mereka beragam. Kemandirian dan kebebasan ekspresi adalah “ideologi” bersama yang justru menyatukan mereka. Mereka saling belajar dan mendukung satu sama lain, sembari merayakan perbedaan, membuka ruang seluas-luasnya bagi keyakinan estetik dan kecenderungan artistik masing-masing. Secara personal, anggota kelompok ini aktif berpameran di berbagai tempat, di dalam dan luar negeri. Sejumlah person telah muncul sebagai perupa muda yang diperhitungkan di jagat seni rupa nasional.

Keragaman ekspresi artistik para perupa 10 Fine Art menggemakan situasi kehidupan sosial di Sanur, basis kelompok ini. Sanur adalah kawasan wisata terkenal di pesisir timur Denpasar yang dilengkapi fasilitas akomodasi modern berkelas internasional. Sebagaimana penghuni resor pariwisata tersohor lainnya, warga Sanur harus hidup bersama ribuan pendatang dari berbagai daerah di Indonesia yang mencari nafkah di sektor pariwisata, maupun lalu-lalang turis dari dalam dan luar negeri.

Namun berbeda dari pusat pariwisata lainnya di Bali, misalnya Kuta atau Ubud, atmosfir Sanur terasa lebih “eklektis”. Di Sanur, gaya-hidup kosmopolitan, lokalisasi pelacuran dan kafe remang-remang berdampingan dengan suasana alam nan syahdu dan mistis, prestasi historis seni lukis tradisional mazhab Sanur, kehadiran museum Le Mayeur, dan eksistensi gria Brahmana berpengaruh yang merupakan pusat keunggulan intelektual-religius-artistik Bali di masa silam. Sanur mengaduk yang tradisional dan yang modern, yang luhur dan yang mesum, yang sakral dan yang profan. Kemajemukan realitas Sanur ini kiranya berperan penting membentuk sikap toleran dan terbuka para perupa 10 Fine Art, sehingga mampu mengakomodasi dan mendayagunakan perbedaan mereka untuk membangun kekuatan dalam sebuah kelompok yang tetap solid sejak didirikan enam tahun silam sampai hari ini.

Kendati mengusung keragaman tema, gaya maupun teknik, kreativitas para seniman 10 Fine Art digerakkan oleh tanggapan dan sikap moral tertentu mengenai situasi kehidupan sosial yang sehari-hari dilihat dan dialami. Kreasi artistik mereka mencerminkan intuisi dan imajinasi personal, sekaligus kepekaan sosial dan kultural. Dengan cara masing-masing, mereka menanggapi transformasi yang berlangsung di masyarakat. Pada khususnya, respons akut dan kreativitas personal mereka tidak terlepas dari konteks sosial yang membentuk realitas Sanur sebagai lingkungan desa tradisional yang telah terglobalisasi, berubah menjadi pusat industri pariwisata berskala massal dan internasional.

Karya para perupa 10 Fine Art secara tersirat merefleksikan dampak gempuran gelombang tsunami globalisasi yang menyapu pantai Sanur pada khususnya, dan seantero Bali pada umumnya. Di Sanur pada abad 21, juga di kawasan-kawasan lain di Bali, budaya tradisional umumnya masih bertahan (atau dipertahankan, termasuk untuk menunjang kepentingan industri pariwisata), tapi sekaligus terancam karena semakin sulit diadaptasikan dengan tuntutan pragmatis kehidupan modern, dan juga karena harus bersaing dengan berbagai pengaruh budaya kontemporer sejagad yang lebih fleksibel, seksi dan profitable. Benturan budaya ini ditanggapi para perupa 10 Fine Art dengan psikologi berbeda-beda. Ada yang rileks, ada yang tegang. Namun demikian, mereka semua sama-sama menyuarakan kritisisme terhadap badai perubahan yang melanda lingkungan sosio-kultural Bali kontemporer.

Salah satu dampak perubahan sosio-kultural yang menjadi fokus perhatian para perupa adalah problem identitas. Dalam situasi silang-sengkarut aneka budaya, gaya hidup dan nilai-nilai yang berebut ruang, Sanur seolah menjelma jadi “wilayah tak bertuan” (no-man’s-land). Sebentang wilayah abu-abu di mana, mengutip teoretikus politik Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe, “tidak ada identitas sosial yang sepenuhnya terlindung dari wacana luar yang membuatnya cacat dan tak bisa utuh-padu... tidak ada identitas yang dapat terbentuk dengan sempurna.” Atau dengan kata lain, suatu medan gegar identitas. Karena identitas adalah soal posisi subjek, maka di medan gegar identitas, subjek (individual maupun kolektif) tidak lagi dapat dipastikan posisinya. Subjek terombang-ambing tak menentu dalam kegamangan dan kebimbangan, disorientasi bahkan depresi.

Situasi ketidakpastian posisi subjek ditampilkan secara dramatis dalam karya-karya I.B Purwa. Lukisan-lukisannya mengetengahkan suatu biografi tubuh yang tak henti bergerak, berubah-ubah perangai, berganti-ganti posisi. Tubuh menggeliat, mengejang dan menghentak, sepenuhnya menjadi ajang pergolakan daya-daya internal dan eksternal. Secara heroik dan sekaligus ironis, Purwa merayakan subjektivitas tanpa pusat. Tubuh pada kanvasnya melambangkan kondisi masyarakat yang dari luar tampak solid dan memiliki identitas jelas, tapi sesungguhnya penuh retakan dan ketidakpastian di bagian dalam.

Wayan Muliastra menginterogasi problem identitas dengan menggelar proyek refleksi-diri. Serangkaian lukisan potret-dirinya mengungkapkan ketegangan psikologis hebat yang menyertai rumitnya, perihnya dan absurdnya upaya menegakkan identitas. Identitas yang utuh dan kukuh adalah mustahil, bukan saja karena selalu terkoyak oleh agresi dari luar (“Tak Bisa Menjerit”, “Terpancing”), tapi juga karena tidak lagi mempunyai akar esensial (“Charge”). Ketegangan psikologis juga terpancar dari figur-figur penari Bali dalam karya Wayan Apel Hendrawan (“Irama Laut”, “Menari dalam Api”). Tanda identitas etnis Bali pada tubuh figur tampak “dicemari” oleh jejak kekuatan-kekuatan dahsyat eksternal yang menggurat kulit mereka seperti tato.

Wayan Paramartha mempersoalkan identitas etnis Bali lewat ekspose citra fotografis perempuan Bali. Ia melakukan reinterpretasi kritis terhadap citra kemolekan perempuan Bali yang berperan penting melambungkan citra Bali sebagai surga eksotis dan erotis sejak dekade-dekade awal abad 20. Citra nostalgis-romantis perempuan Bali dimainkan Paramartha secara ironis untuk menimbang-kembali makna identitas etnis Bali pada zaman sekarang. Ada optimisme bahwa identitas etnis Bali akan tetap lestari di tengah deru perubahan (“Tak Akan Usai”). Sebaliknya, merebak pula pesimisme bahwa budaya tradisional Bali tidak relevan lagi dengan kemajuan zaman, terasing bagai penari Bali di tengah belantara metropolitan (“Lost in S’pore”). Dan jika pada masa kolonial, mengutip W. van Schendel, “ketelanjangan melambangkan keprimitivan, keterbelakangan, kecabulan dan kehinaan” manusia pribumi dan budaya lokal, maka pada zaman modern ini, emansipasi identitas etnis Bali perlu dipersenjatai dengan ilmu pengetahuan modern, ibarat gadis Bali telanjang menggenggam pistol (“Aku di Depan”).

Made Dollar Astawa menggeser posisi subjek perempuan dari pusat fantasi seksual, dan menggantinya dengan citra buah-buahan tertentu yang berkonotasi erotis. Erotisisme tidak lagi terisolasi pada tubuh perempuan, khususnya karakter fisik tertentu yang dianggap ideal dan membakar syahwat, melainkan muncul sebagai efek dari permainan tanda. Tubuh-erotis digeser oleh pikiran-erotis. Pergeseran ini menyiratkan suatu tanggapan kritis atas fenomena objektivikasi dan komodifikasi perempuan di “sisi kelam” pariwisata Sanur.

Dengan rileks, Ngurah Paramartha menerima kenyelenehan (idiosyncrasy) sebagai bagian yang wajar dari dinamika kehidupan sehari-hari. Lukisan-lukisannya menampilkan figur mirip-badut yang tingkahnya aneh-aneh. Di kawasan pariwisata seramai Sanur, di mana berkumpul segala macam karakter identitas dari seluruh penjuru dunia, penampilan dan perilaku seaneh apapun sesungguhnya tidak aneh lagi.

Tidak kalah rileksnya, Made Romi Sukadana meledek sindrom “disorientasi kultural” pada masyarakat yang dilanda krisis identitas. Karya-karya Romi memperagakan anakronisme yang menyengat: anekdot-anekdot karikatural tentang subjek yang tidak lagi mengenal dirinya sendiri, sehingga terdampar pada situasi absurd di tempat dan waktu yang salah. Unta, binatang padang pasir itu, hidup di padang rumput (“Unta dan Padang Rumput”). Sedangkan penyelam, yang mestinya menjelajah perairan, malah berkeliaran di padang pasir (“Menyelam di Padang Pasir”). Lucu dan sekaligus menyedihkan.
Kesadaran identitas etnis Bali menyeruak dari karya Ketut Teja Astawa yang berupaya meredefinisi dan merenegosiasi tradisi secara inovatif. Teja mencari sensibilitas yang bersumber dari budaya masyarakat tradisional Bali, dan mengemasnya dalam ekspresi kontemporer. Ia mengembangkan corak stilistik dan tematik khas yang berpijak pada eksplorasi personal terhadap khazanah artistik wayang kulit Bali dan seni lukis klasik Bali. Namun, berlawanan dengan watak seni wayang maupun seni lukis klasik Bali yang menjunjung keanggunan dan kestabilan tatanan, Teja mengadopsi khazanah tradisi dengan sikap kreatif yang rileks, untuk mengungkapkan pengalaman sehari-hari maupun fantasi individual yang kadang lucu bahkan konyol.

Berkebalikan dari Teja, Made Budi Adnyana dan V. Dedy Reru justru melepaskan diri dari bayang-bayang identitas etnis maupun identitas nasional. Budi adalah satu-satunya anggota kelompok 10 Fine Art yang konsisten berkarya di jalur seni lukis abstrak. Karya-karyanya bergaya Kubisme Analitis, khususnya mengikuti model yang dikembangkan oleh Georges Braque dan Lyonel Feininger. Sementara Dedy adalah satu-satunya perupa non-Bali dalam kelompok 10 Fine Art. Karya-karya mutakhirnya menjelajahi fenomena musik pop Barat, khususnya grup legendaris The Beatles. Berbagai citraan pada kanvasnya dilukis dengan memadukan kekuatan efek fotografis dan seni gambar (drawing). Meskipun dapat diidentifikasi dengan jelas, figur-figur dalam lukisan Dedy tampak menghantu (phantasmagoric), menghuni dunia-ambang di antara mimpi dan realitas: suatu metafora visual tentang kekuatan halusinogenik budaya massa.

Kemandirian kreatif para perupa 10 Fine Art berakar pada kepercayaan teguh terhadap otentisitas penciptaan seni murni (Fine Art). Para anggota kelompok ini terbuka kepada perkembangan zaman, tetapi menolak ikut-ikutan trend belaka. Mereka, misalnya, tak mau melukis dibantu artisan seperti banyak dilakukan pelukis sekarang, dan tidak tertarik mengubah gaya lukisan sekedar agar dianggap “kontemporer”. Mereka percaya bahwa karya seni sejati haruslah merupakan ekspresi diri yang otentik, ungkapan identitas kreatif personal yang unik: lahir dari rasa, karsa dan hasta sendiri. Ten Made.

Arif Bagus Prasetyo, Kurator
Alumnus IWP University of Iowa, Amerika Serikat

Read more

24 Perupa muda tampilkan karya baru

Oleh: Herry Suhendra
JAKARTA (Bisnis.Com): Sebanyak 24 perupa muda hasil saringan kompetisi ‘Tujuh Bintang Art Award’ menampilkan karya terbarunya dalam pameran bertajuk ‘Homage’ mulai malam ini sampai 23 Mei 2010 di Tujuh Bintang Art Space.

Ke-24 perupa itu hasil seleksi dari sekitar 1.500 peserta award yang sebelumnya dipilih 56 seniman. “Di mana ke-56 seniman ini kami bagi menjadi dua grup, dan grup pertama (yang terdiri dari 24 seniman) karyanya dipamerkan,” kata Direktur Utama Tujuh Bintang Art Space Saptoadi Nugroho hari ini kepada Bisnis.Com.

Sebanyak 32 karya seniman lainnya akan dipamerkan pada Juli 2010. Seniman yang mengikuti pameran ‘Homage’ ini banyak mengalami perubahan, baik peryubahan secara ide, gagasan maupun secara teknis.

Menurut Saptoadi, seniman kadang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menentukan pilihan,pilihan ide apa dan pilihan teknis apa yang bisa menmcapai gagasan yang didapat dan bisa membuahkan hasil yang maksimal, sehingga menjadi wacana bagi pameran dan seniman itu sendiri.

Di dalam pameran grup ini terkesan ada sebuah konmpetisi kecil yang sedang berlangsung, masing-masing seniman mempunyai kekuatan tersendiri. Satu atau beberapa karya banyak menjadi perhatian pencinta seni, menjadi bahan perbincangan dan diskusi dalam pameran ini.

Pameran seni rupa ini bertema “Homage” yang mempunyai makna sikap penghormatan terhadap berbagai aspek dalam proses pencapaian nilai-nilai puncak yang sampai saat ini sedang atau bahkan tetap diacu.

Rusnoto Susanto, salah seorang kurator pameran mengatakan “Homage” adalah bentuk persembahan dari Tujuh Bintang Art Space terhadap perkembangan perupa-perupa yang telah menjadi nominator dimana saat ini mereka telah melakukan perubahan signifikan terhadap kapasitas penciptaan seni rupa mereka.(msb)

Read more

Penghormatan Atas Capaian Ideologi Estetik Perupa Muda

Sebanyak 24 karya dari 24 seniman yang berhasil menjadi bagian dari 56 seniman yang masuk dalam nominator kompetisi Tujuh Bintang Art Award 2009 dipamerkan pihak penyelenggara di ruang pamer tujuh bintang art space.

Pameran seni rupa ini bertema “Homage” yang mempunyai makna sikap penghormatan terhadap berbagai aspek dalam proses pencapaian nilai-nilai puncak yang sampai saat ini sedang atau bahkan tetap diacu.

Rusnoto Susanto, salah satu kurator pameran mengatakan “Homage” adalah bentuk persembahan dari Tujuh Bintang Art Space terhadap perkembangan perupa-perupa yang telah menjadi nominator dimana saat ini mereka telah melakukan perubahan signifikan terhadap kapasitas penciptaan seni rupa mereka.

“Tujuh Bintang Art Space begitu konsen pada perupa-perupa muda sehingga tidak pernah memilih-milih mana perupa yang sudah layak atau belum layak untuk ditampilkan.” kata Rusnoto yang juga menjadi salah satu dewan juri kompetisi Tujuh Bintang Art Space Award.

Pameran “Homage” ini, dijelaskan Direktur Utama Tujuh Bintang Art Space Saptoadi Nugroho adalah pameran sebagai kelanjutan dari kegiatan Tujuh Bintang Award yang telah dilaksanakan 18 Agustus 2009 lalu.

56 perupa yang masuk dalam nominator kompetisi Tujuh Bintang Art Award adalah hasil seleksi yang dipilih dari kurang lebih 1500 peserta yang mengikuti kompetisi ini. 56 nominator ini telah melewati seleksi dari dewan juri yang berkualitas seperti Suwarno Wisetrotomo, Kuss Indarto, Netok Sawiji_Rusnoto Susanto, Sujud Dartanto serta Mikke Susanto.

Rusnoto Susanto dalam catatan pamerannya memaknai “Homage”sebagai penghargaan atau penghormatan terhadap subyek-subyek tertentu yang dinilai memiliki kapasitas khusus semisal tokoh, peristiwa, era atau penanda periodisasi maupun simbil-simbol tertentu yang muncul mengambil posisi penting.

Secara jelas bisa diketahui “Homage” hendak memunculkan berbagai pemikiran-pemikiran segar dari perupa peserta pameran dalam mendedikasikan proses perenungan, pemikiran dan olah kreatifnya sebagai representasi penghormatan nilai serta ideologi estetika yang diperjuangkan.

Berbagai artikulasi visual yang hadir dalam pameran “Homage” ini, menurut Netok Sawiji, tentu tidak secara permukaan diinterpretasi, namun mesti dicermati sebagai wujud persembahan nilai-nilai estetika untuk avant garde seni rupa tanah air.

“Ini selayaknya memberikan penghormatan kepada maestro-maestro kita yang telah memperjuangkan dan menegaskan kembali ideologi estetika sejak masa perjuangan, revolusi, kemerdekaan hingga seni rupa kontemporer akhir-akhir ini…,” demikian Netok Sawiji.

“Homage” sekaligus juga memberi pengingat kepada kita yang sering kali luput menyampaikan apresiasi tertentu terhadap pencapaian-pencapaian puncak orang lain apalagi rival kita.

Secara umum, peserta pameran “Homage” memiliki kapasitas konsep dan kemampuan teknik artistik sangat memadai. Eksplorasi media, teknik, visual serta eksplorasi estetiknya mencukupi nilai yang hendak diperjuangkan.

Peserta pameran menggunakan berbagai pencapaian kapasitasn kreatifnya melalui media dua dimensi, tiga dimensi, variable media serta multi media dengan tingkat eksplorasi luar biasa guna membuka berbagai nilai kemungkinan.

Netok Sawiji mengamai para perupa dalam pameran “Homage” lebih dominan menampilkan gagasan dengan penggunaan bahasa visual realistik meski hanya dalam prosentase kecil saja yang memposisikan pada realistik yang non representasi obyek.

Citra realistik yang paling mudah dilihat adalah upaya setiap perupa masuk ke ranah seni rupa kontemporer dengan citra representasi visual maupun kekuatan-kekuatan gagasan yang mendasari olah kreatifnya.

Dalam bahasa promosi yang ditulis Netok, karya-karya ini telah mengindikasikan perubahan peta perkembangan seni rupa kontemporer hari ini, paling tidak ini cukup representatif untuk mengetahui laju perkembangan dan prediksi wacana seni rupa mendatang.

Setelah 24 karya dari 24 perupa yang masuk dalam nominator Tujuh Bintang Art Award, pada 24 Juli 2010 mendatang giliran 32 perupa yang masuk dalam 56 nominator memamerkan karyanya. Dan tentunya akan semakin banyak lagi upaya menggali ideologi estetika dari para perupa yang akan dipamerkan pihak Tujuh Bintang Art Space dalam rangka memberikan penghormatan terhadap dunia seni rupa. (The Real Jogja/joe)
Read more

Nominator Tujuh Bintang Art Space Unjuk Gigi Dalam 'Homage'

YOGYA (KRjogja.com) - Sebanyak 24 karya dari 24 seniman yang berhasil menjadi bagian dari 56 seniman nominator kompetisi Tujuh Bintang Art Award 2009 dipamerkan pihak penyelenggara di ruang pamer tujuh bintang art space. Pameran yang bertema “Homage” ini digelar sejak 8 hingga 23 Mei 2010 di Tujuh Bintang Art Space Jalan Sukonandi Yogyakarta.

Salah satu kurator pameran ini, Rusnoto Susanto mengatakan “Homage” adalah bentuk persembahan dari Tujuh Bintang Art Space terhadap perkembangan perupa-perupa yang telah menjadi nominator, karena saat ini mereka telah melakukan perubahan signifikan terhadap kapasitas penciptaan seni rupa mereka. Pemeran ini juga dilakukan sebagai sikap penghormatan terhadap berbagai aspek dalam proses pencapaian nilai-nilai puncak yang sampai saat ini sedang atau bahkan tetap diacu.

“Tujuh Bintang Art Space begitu konsen pada perupa-perupa muda sehingga tidak pernah memilih-milih mana perupa yang sudah layak atau belum layak untuk ditampilkan.” kata Rusnoto yang juga menjadi salah satu dewan juri kompetisi Tujuh Bintang Art Space Award, Selasa (11/5)

Direktur Utama Tujuh Bintang Art Space, Saptoadi Nugroho mengatakan pameran sebagai kelanjutan dari kegiatan Tujuh Bintang Award yang telah dilaksanakan 18 Agustus 2009 lalu.

Dikatakan Saptoadi bahwa 56 perupa yang masuk dalam nominator kompetisi Tujuh Bintang Art Award adalah hasil seleksi yang dipilih dari kurang lebih 1500 peserta yang mengikuti kompetisi ini. 56 nominator ini telah melewati seleksi dari dewan juri yang berkualitas seperti Suwarno Wisetrotomo, Kuss Indarto, Netok Sawiji, Rusnoto Susanto, Sujud Dartanto serta Mikke Susanto.

Para perupa yang berpameran adalah Achamd Basuki, Agung Santosa, Cipto Purnomo, Danny Irawan, Erianto, Ferry Gabriel, Hasto Edi Setiawan, I Kadek Agus Ardika, I Wayan Upadana, Khusna Hardiyanto, M.Wira Purnama, Miranti Minggar Triliani, Nawir MC Pitt, Nugroho Wiyatmojo, Rocka Radipa, Ronald Efendi, Roni Ammer, Rudi Hendriatmo, Wibawa Adi Utama dan Yudi Irawan

Setelah 24 karya dari 24 perupa yang masuk dalam nominator Tujuh Bintang Art Award, pada 24 Juli 2010 mendatang giliran 32 perupa yang masuk dalam 56 nominator memamerkan karyanya. Dan tentunya akan semakin banyak lagi upaya menggali ideologi estetika dari para perupa yang akan dipamerkan pihak Tujuh Bintang Art Space dalam rangka memberikan penghormatan terhadap dunia seni rupa. (Fir)

Read more

Rudi Hendriatno dalam HOMAGE

Hand Made
40x60x140 Cm, Teak Wood, 2010

Karya RUDI HENDRIATNO
Padang, July 8, 1980
Education:
Institut Seni Indonesia, Yogyakarta

Awards:
2009 Karya Terbaik Tujuh Bintang Art Award, “The Dream”, Jogja National Museum

Selected Group Exhibitions:
2010
- “Homage”, Tujuh Bintang Art Space, Yogyakarta
- “Bakaba”, Sakato Art Community, Jogja National Museum, Yogyakarta

2009
- Pameran Kelompok Kecil “Antara Nama Dan Nama”, Jogja National Museum
- Pameran 3 Dimensi, “Bersama Dalam Ruang Komposisi” Joglo Art Societes, Yogyakarta
- “The Dream (The Power of Dream) Tujuh Bintang Art Award”, Jogja National Museum
- Minang Art Academic, Taman Budaya, Padang, Sumatera Barat
- “Cross/piece”, Gallery Canna, Jakarta

2008 - “Live is Art, Art Is Live”, Jogja Bike Rendezvous, Coaral Gallery, Yogyakarta

2007 - Pameran Tugas akhir, Jurusan Kriya, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta

2006 - “Jlin Bapilin”, Mahasiswa Minang Institut Seni Indonesia Yogyakarta (Formmisi), Benteng Verderburg dan Taman Budaya Yogyakarta
Read more

Roni Ammer dalam HOMAGE

Young Player #1
150x150 Cm, Mixed Media On Canvas, 2010

Young Player #2
150x150 Cm, Mixed Media On Canvas, 2010

Karya RONI AMMER
Pemalang, January 8, 1983
Education:
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Awards:
2009 Nominator Tujuh Bintang Art Award “The Dream (The Power Of Dream)”
2007 Penghargaan Lomba Kartun, “Lingkungan & Indonesia”, Japan Foundation, Jakarta
2006 Penghargaan lomba Karikatur, dalam rangka HUT tabloid politik (PARLE), Jakarta
2005 Penghargaan lomba Kaligrafi Jawa, tingkat kota Yogyakarta

Selected Group Exhibitions:
2010
- “Homage”, Tujuh Bintang Art Space, Yogyakarta

2009
- “Isioteraphy 2# Retrospeksi”, Benteng Vredeburg Yogyakarta
- ”The Dream (The Power of Dream)” Tujuh Bintang Art Award, Jogja National Museum
- “Exploration of Creativity”, D'Peak Art Space, Jakarta

2008 - “Seni Rupa diantara Kami/Art Between Us”, Tembi Contemporary, #2 Geneng Open Studios, Dusun Geneng, sewon, Bantul, Yogyakarta

2006 “Yang Error”, Via-via Café, Yogyakarta

2003 Pameran kelompok BIRU, “Old for New”, Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta
Read more

Syaiful A Rahman dalam HOMAGE

Two Power
130x150 Cm, Acrylic On Canvas, 2010

Mass Capture
130x150 Cm, Acrylic On Canvas, 2010

Karya SYAIFUL A RACHMAN
Surabaya, March 15, 1974

Awards:
2009 Karya terbaik Tujuh Bintang Art Award
2002 Karya Nominasi “INDOFOOD Art Award”
1999
- Karya terbaik ”LUSTRUM III” ISI Yogyakarta
- Karya terbaik PEKSIMIDA V Yogyakarta
- Karya terbaik NOKIA Art Award Indonesia
1997 Karya terbaik pekan seni budaya jawa timur

Selected Group Exhibitions:
2010
- “Homage”, Tujuh Bintang Art Space, Yogyakarta

2009
- “Exposigns” ISI Yogyakarta
- “The DreamThe Power of Dream” Tujuh Bintang Art Award, Jogja National Museum

2002
- ”Indofood Art award 2002”, Museum National Jakarta
- Puri Gallery Malang & Langgeng Gallery Magelang

2001
- Moom Gallery Jakarta
- ”TUBUH”, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta
- Pertemuan 94, Purna Budaya, Yogyakarta

2000
- ”NOKIA Art Award Asia Pacific”, Singapore, Kuala Lumpur, Taipeh, Beijing,
Hongkong, Auckland

1999
- FKI, Benteng Vredeburg Yogyakarta LUSTRUM III ISI Yogyakarta
- PEKSIMINAS

1998 Pameran bersama Alumni ISI, Hotel Garuda Yogyakarta
Read more
 

Tujuh Bintang Blog Design by Insight © 2009