Katirin Meringkus Waktu

OLEH: YUYUK SUGARMAN
dari
SINAR HARAPAN

Yogyakarta - Katirin, salah satu perupa yang tinggal di Yogya,mempunyai pandangan tersendiri untuk memahami sosok manusia (termasuk dirinya sendiri) dalam mengarungi kehidupan sehari-hari yang penuh misteri.

“Manusia dalam kehidupan sehari-hari merupakan rangkaian gerak-gerik sepanjang pergulatannya dengan hidup. Hidup yang tak pernah terdefinisikan dan senantiasa luput dari genggaman pemahamannya. Maka, kepada setiap manusia selalu saya temukan perasaan ketidakberdayaan, tetapi sekaligus juga rasa kesanggupan untuk menempuh itu dengan ikhlas, dan semua itu bagi diri saya sungguh memukau serta penuh misteri.”

Berangkat dari pemahamannya itulah Katirin, lelaki kelahiran Banyuwangi 17 Sep­tember 1968, mencoba menu­angkannya dalam kanvas serta karya tiga dimensi (patung) yang kini dipamerkan di Tujuh Bintang Art Space Yogya sejak 17 April hingga 2 Mei mendatang. “Meringkus Waktu”, begitulah tema yang diusung.

“Sesungguhnya realitas tak pernah telanjang dan selalu terbingkai oleh narasi yang rumit dan panjang. Saya menolak setiap ilusi yang mengaku telah mampu memindahkan seluruh realitas ke dalam visualisasi. Ia tak pernah nyata kecuali samar-samar,” ujar Katirin.

Menurut Soewarno Wisetrotomo, kurator pameran ini, karya-karya Katirin yang terbaru dalam pameran kali ini mengungkapkan perihal “menunggu” – sesuatu yang terkait erat dengan waktu. Yang segera bisa ditangkap dari gejala visualnya adalah pose-pose atau gestur figur (simbolis) yang mencitrakan posisi menunggu. “Katirin juga melakukan eksplorasi material, tak hanya dengan cat dan kanvas, tetapi juga menggunakan kertas untuk menghasilkan tekstur, dan menggunakan kayu-kayu bekas untuk menggubah patung,” kata Soewarno.

Memang ketika melihat kar­ya-karya Katirin yang dipamerkan saat ini bisa kita lihat secara nyata menggambarkan figur-figur yang tengah menunggu.

Tengok saja pada lukisan “Waiting for Your Love”.
Karyanya ini menunjukkan sosok perempuan yang tengah duduk di kursi kayu berwarna merah. Melihat cara duduk perempuan tersebut dengan kedua kakinya mekangkang dan salah satu tangannya berada di tengah-tengah dua kaki yang memegang ujung kursi terasa jelas memperlihatkan dia begitu gelisah dengan apa yang ditunggu-tunggu. Bahkan, pose ini ditambah dengan kepalanya yang miring dengan raut wajah yang menunjukkan nuansa penantian.

Hal yang sama ditunjukkan pada karyanya yang berjudul “Dreams of Freshness”. Lukisan ini memperlihatkan sosok wanita yang terbaring tanpa mengenakan sehelai pakaian pun. Sementara di sisi atas, Katirin menambahkan lukisan beberapa irisan buah semangka.

“Artistik dan Naif” ala Katirin
Dua lukisan di atas merupakan contoh dari beberapa lukisan Katirin yang tengah dipamerkan dan begitu artistik, meski warna-warna lu­kisannya cenderung sephia. Namun di sisi lain, agaknya Katirin terjebak pada gambaran yang begitu “telanjang” atau katakanlah naif.

Betapa tidak, hal ini bisa dilihat dari karyanya “Waiting for The President Call”. Karyanya tersebut menunjukkan sosok wanita berkepala pesawat telepon. Di sini, agaknya Katirin ingin menunjukkan kegelisahan seorang perempuan yang tengah menunggu panggilan dari presiden yang barangkali akan ditunjuk untuk menduduki kursi menteri atau penasihat. Demikian pula dengan lu­kisan “Waiting # 3” yang menunjukkan sosok perempuan berkepala jam yang tengah termangu bersandar pada pinggiran
sofa panjang.

Terlepas dari itu, karya Katirin memang banyak menyita “perhatian”. Salah satu indikatornya adalah, hanya dalam sehari ada tujuh karyanya yang sudah terjual (salah satunya adalah “Waiting for Your love”). Barangkali dalam beberapa hari ke depan karyanya akan lebih banyak lagi terjual.
Selamat.



Read more

‘MERINGKUS WAKTU’ ;Kejutan Ide Kreatif dan Variatif Katirin

PAMERAN seni rupa tunggal bertajuk ‘Meringkus Waktu’ karya perupa Katirin di Tujuh Bintang Art Space Jalan Sukonandi 7 Yogya, dibuka Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Dra Dyan Anggraini Rais, Sabtu (17/4) malam.

Eloknya, sejumlah lukisan karya Katirin malam itu langsung laku dibeli 8 kolektor lukisan.

Salah satu kolektor lukisan, Dr Oei Hong Djien, setelah mengamati karya Katirin secara spontan langsung pesan lukisan berjudul ‘Waiting for Your Love’ ukuran 120 X 145 cm, bahan cat acrylic dan kanvas dibuat 2009. Pameran seni rupa ‘Meringkus Waktu’ bertema menunggu memajang puluhan lukisan dan patung kayu masih berlangsung hingga 2 Mei 2010 mendatang. Di antaranya, berjudul ‘Waiting #1’,’Waiting #2’, ‘Waiting #3’, ‘Waiting for The President Call’, ‘The Legend’ dan lukisan lainnya.

Dr Oi Hong Djien mengungkapkan, lukisan karya Katirin yang dipajang luar bisa kejutan dan ada kemajuan mulai dari gagasan, konsep hingga teknik divisualkan karyanya kreatif dan variatif. ”Salah satunya, lukisan ‘Waiting for Your Love’ sangat bagus dan tanpa pikir panjang langsung kupesan untuk dikoleksi di museumku. Aku melihat pameran seni rupa tunggal karya Katirin sangat bagus layak diapresiasi,” tandas Oi Hong Djien.

Katirin mengisahkan, puluhan lukisan yang digelar semua karya terbaru dikerjakan tahun 2009 dan 2010. Dr Oi Hong Djien mengoleksi 1 lukisan kali pertama tahun 2004. ”Kini, dalam momentum saya pameran tunggal kembali mengoleksi 1 lukisan. Tentu saja, aku senang pameran lukisan tunggal mendapat respons positif dan laku dikoleksi kolektor. Termasuk, Dr Oi Hong Djien tergoda mengoleksi lukisan karyaku lagi,” kata Katirin. (Cil)-s

dari Harian Kedaulatan Rakyat
Read more

Perburuan Hong Djien berlanjut...

JOGJA: Setelah gagal membeli karya-karya yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, kolektor seni, Oei Hong Djien, melangkah ke Tujuh Bintang Art Space Gallery. Di sana dirinya menemukan sebuah karya milik Katirin berjudul Waiting for Your Love.

“Wah, ini harus masuk museum lukisan saya. Benar-benar Katirin sudah berubah, karyanya semakin menarik saja. Saya beli yang ini ya,” tiru Katirin mengulang percakapannya dengan Oei Hong Djien saat pembukaan pameran lukisan Meringkus Waktu karya Katirin di Tujuh Bintang Art Space Gallery, Senin (19/4).

Bagi Katirin tentu hal ini menjadi kebanggaan tersendiri. Bukan sekadar terjual namun lebih dari itu, Oei Hong Djien ternyata memuji karyakarya terakhirnya ini. Karya bertajuk Waiting for Your Love ini melukisn seorang perempuan yang menunggu dan duduk di atas kursi. Lamanya menunggu hingga kaki perempuan itu menyatu dengan kaki kursi.

Sebenarnya karya yang dipamerkan oleh Katirin di galeri ini bercerita tentang aktivitas menunggu. Di sana terlukiskan kemunculan hasrat untuk meringkus sang waktu, ingin mempercepat laju atau mempelambatnya.

“Semuanya berhubungan dengan waktu. Namun saya menvisualkan dalam pose-pose figur pencitraan seseorang dalam posisi menunggu,” ungkap Katirin.

Seperti halnya lukisannya yang bertajuk Waiting I sesosok dalam pose duduk, tangan kanannya memegang sebatang rokok. Sedangkan kepalanya sudah bermetamorfosa menjadi jendela kayu, tampak kuno dengan cat yang mengelupas. Bahkan jerujinya sebagian lepas dan berlubang.

Sedikit berbeda dengan karya Waiting III. Di sini digambarkan sesosok perempuan, yang dibagian kepalanya berbentuk arloji. Dia duduk berbalut baju terusan kekuningan yang sedang duduk di bangku panjang berwarna merah. Sesosok ini duduk di ujung bangku paling kanan, sementara bangku kiri seperti tak berujung.

Bahkan Katirin mencoba mengeksplorasi sebuah tema yang tak mungkin terjadi berjudul Waiting for The President Call. Di sana digambarkan seorang perempuan yang sedang duduk di atas kursi merah. Sedangkan kepala perempuan itu telah berganti wujud menjadi sebuah telepon berwarna hitam.

Pameran yang rencananya akan berakhir pada Minggu (2/5) ini menyuguhkan sekitar 20 karya Katirin. “Untuk saat ini yang sudah laku ada 7 lukisan,” ujar Katirin.

Oleh Joko Nugroho
HARIANJOGJA
Read more

Meringkus Waktu, Pameran Rangkaian Pergulatan Hidup

Kapanlagi.com - Seniman Katirin menampilkan 26 karyanya dalam pameran tunggal bertajuk "Meringkus Waktu" yang menggambarkan rangkaian pergulatan hidup manusia sepanjang waktu.

"Ke-26 karya yang saya pamerkan hingga 2 Mei 2010 itu terdiri atas 20 lukisan dan enam karya tiga dimensi," kata Katirin di sela pameran `Meringkus Waktu` di Tujuh Bintang Art Space Yogyakarta, Selasa.

Ia mengatakan dirinya mencoba untuk menuangkan pergulatan hidup manusia ke dalam lukisan dengan tetap membiarkan sebagian di antaranya terbungkus dalam misteri kehidupan.

"Dengan latar belakang itu saya mencoba memberikan kekuatan dan tenaga pada objek lewat sapuan, warna, garis, tekstur, serta goresan. Selanjutnya, membiarkan karya-karya tersebut `berbicara` sendiri," katanya.

Hal itu, menurut dia berangkat dari hidup yang tidak pernah terdefinisikan dan selalu lepas dari genggaman pemahaman serta penuh misteri.

Ia mengatakan pemahaman kata terhadap objek adalah perjalanannya dalam "diam", sehingga sepanjang itu dirinya seperti sedang menelusuri mata dan lekukan batin sendiri.

"Semua itu untuk menangkap makna yang hanya bisa digapai dengan mengembangkan segenap rasa simpati, dan melibatkan diri dengan seluruh emosi," katanya.

Menurut dia, realita tidak pernah "telanjang", dan selalu terbingkai oleh narasi yang rumit dan panjang, sehingga perlu diterjemahkan melalui visualisasi dalam bentuk lukisan serta karya tiga dimensi.

"Oleh karena itu, menolak setiap ilusi yang mengaku telah memindahkan seluruh realita ke dalam visualisasi akan membuat realita tidak pernah nyata, dan hanya samar-samar," katanya. (ant/npy)
Read more

Ekspresi Melalui Kayu

JOGJA: Perupa asal Jogja, Katirin, mencoba mendefi nisikan kehidupan yang penuh misteri pada karyakaryanya yang dipajang di Tujuh Bintang Art Space dalam pameran tunggal bertajuk Meringkus Waktu hingga 2 Mei mendatang.

Dalam pameran ini, Katirin menghadirkan 20 lukisan dan enam karya tiga dimensi berupa patung dari kayu bekas. Karya-karya Katirin ini menggambarkan aktivitas yang berdimensi sosial sekaligus spiritual.

Beliau mewujudkan manusia kayu yang sedang menunggu sambil bisa duduk, berdiri, atau mondar-mandir namun mengeluarkan banyak perasaan, mulai dari marah, jengkel, hingga frustrasi.

“Sebenarnya karya ini adalah karya setelah saya stagnan setahun lalu. Saya biasanya mengeksplorasi bentuk tubuh saja,” ungkap Katirin di Tujuh Bintang Art Space, Jalan Sukonandi No.7 Jogja, Senin (19/4).

Sebagai seorang ekspresionis, Katirin mengaku untuk menggarap satu karya hanya dibutuhkan waktu dua hari. Sedangkan yang lama adalah mengendapkan sebuah objek dalam batin dan pikirannya.

“Untuk sapuan, warna, garis, tekstur dan goresan mungkin hanya butuh dua hari, yang lama mengendapkan obyek dalam otak dan batin ini. Teknik bagi saya hanya pendukung karena sifatnya eksploratif saja. Dan, selebihnya membiarkan karya-karyanya berbicara sendiri,” ungkapnya.

Karya-karya Katirin yang terbaru dalam pameran kali ini, mengungkapkan perihal ‘menunggu’. Yang segera bisa ditangkap dari gejala visualnya adalah pose-pose atau gestur fi gur (simbolis) yang mencitrakan posisi menunggu.

Ia juga melakukan eksplorasi material, tak hanya dengan cat dan kanvas, tetapi juga menggunakan kertas untuk menghasilkan tekstur, dan menggunakan kayu-kayu bekas untuk menggubah patung.

Di sini dia tak hanya menyuguhkan tema menunggu, namun juga sebaliknya. Sepert dalam karya berjudul Go Home. Gambar seorang tengah pulang (mengayuh sampan) ingin segera menemui sesosok sedang berpose teronggok di balkon rumah.

Kesenangan yang meluap dihadirkan Katirin dalam karyanya Have Fun Go Mad. Ekspresi kehidupan malam antara dua pemuda dan tiga pemudi yang terlihat sedang menikmati pesta pora. Kegembiraan lebih lanjut terlihat dalam Building Memory yang memuat dua orang lawan jenis tengah berciuman.

Mereka memegang sebuah penggaris lipat yang berbentuk rumah. Seolah mereka sedang membicarakan merajut mimpi, membangun sarang tempat menampung segala ingatan.(jon)

dari Harian Jogja

Read more

Euphoria


Kegembiraan yang meluap juga sebuah momentum yang ditunggu-tunggu.

Karya “Euphoria” yang melukiskan kerumunan, dengan ekspresi bingar. Perhatikan tulisan didinding itu, Great Sale. Sedang ada obral besar, dan Katirin membidiknya dari sisi dalam. Spirit memburu obral besar, adalah spirit yang ada dalam kondisi menungu-nunggu.

Dalam kata great sale, terkonstruksi makna murah. Itulah mantra kapitalisme, sebagai bagian dari jurus bujuk rayu kepada konsumken. Maka, bagi sang konsumen, great sale adalah momentum kegembiraan untuk melampiaskan syahwat konsumsinya.
Read more

Coming Home

Lalu apa yang terjadi dengan “ditunggu”?

Subyek pelaku antara yang “menunggu” dan yang “ditunggu” berbeda secara tajam. Menunggu adalah pengalaman “penderitaan”, sementara “ditunggu” adalah pengalaman kekuasaan. Ia, sebagai sang “ditunggu” memiliki kuasa ‘memainkan’ pihak yang “menunggu”; yang berakhir mengecewakan atau membahagiakan.

Karya “Coming Home” bagi saya menyodorkan pengalaman semacam itu; tegangan yang berbeda antara yang menunggu dan yang ditunggu, dan berujung pada pertemuan. Seseorang tengah pulang (mengayuh sampan) ingin segera menemui seseorang yang memeluk rindu dalam pose teronggok di balkon rumahnya.
Read more

Waiting for The President Call

Katirin juga bergurau, atau tepatnya meledek tentang saat-saat menunggu. Karyanya “Waiting Presiden Call”, seperti menyindir ritual lima tahunan, ketika banyak orang yang merasa penting dan mampu, menunggu telpon dari Istana, siapa tahu ditunjuk menjadi “pembantu” Presiden.

Sesosok perempuan, duduk dengan gestur seronok, jari-jari tangan kanan menjepit sebatang rokok, tangan kiri menopang dagu, tetapi bentuk seluruh kepala itu sudah menjadi pesawat telepon.

Apakah Katirin menyembunyikan ‘komentar sosial’ dalam karya itu? Jangan-jangan sejumlah orang yang merasa penting dan mampu, dan akhirnya benar-benar menerima telepon dari Presiden, tak lebih hanya mereka yang sesungguhnya ‘seronok’ kualitasnya?

Dapat dibayangkan, betapa sepanjang waktu, isi kepala seseorang itu hanya tentang telepon.
Read more

Waiting Series

Karya yang juga menghentak adalah karya-karya tiga dimensional, yang ia bentuk dengan pecahan kayu-kayu (kayu jati; tectonia grandis) bekas, mirip potongan-potongan kayu bakar, yang disusun atau ditata, membentuk figur-figur dalam bentuk atau gestur (pose) tengah menunggu (semua karya itu bertajuk “Waiting”).

Karya-karya ini menjadi terasa pekat, karena menyerupai fosil; mengingatkan peristiwa menunggu yang lama, hingga diri ini terasa membeku, menjadi fosil, mengayu, menjadi kayu. Terdapat perasaan yang ringsek, yang rapuh, tampak berkeping-keping. Menunggu, disamping terasa absurd (perhatikan lukisan yang mengungkapkan kursi panjang, atau karya tiga dimensional yang duduk di sebuah kursi panjang tanpa ujung), juga berpeluang menjadi sang korban.

Katirin kembali menghadirkan ‘kenyataan’ menunggu yang membeku; sesosok samar-samar berwarna kekuningan, duduk dikursi kayu berwarna merah, dengan wajah yang loyo. Perhatikan kedua kakinya; sudah mengayu – menjadi kayu – dan menyatu ke dalam kaki kursi. Warna pastel yang mengitarinya, menambah suasana nglangut.

Sudah berapa lama ia menunggu di kursi itu?
Karya itu tentang kesabaran, kenaifan, atau kesetiaan?
Read more

Waiting #2


Penghayatan yang berbeda terdapat pada karya “Waiting II”.

Sesosok perempuan, yang dibagian kepalanya berbentuk arloji duduk dengan dua alarm di bagian atasnya, berbalut baju terusan kekuningan, duduk di bangku panjang berwarna merah. Sesosok itu duduk tepat di ujung bangku sebelah kanan, sementara arah bangku ke kiri seperti tak berujung (karena langsung habis di tepi kanvas). Bidang lukisan itu didominasi warna kebiruan.

Absurditas dalam karya ini dibangun oleh kode yang berlapis-lapis; “arloji kepala” itu masih menunjukkan pukul 06.25. Gestur perempuan itu masih tampak semangat (mungkin baru saja duduk). Suasana tampak cerah; biru cerah, bangku merah yang cerah, juga baju kuning yang tampak terang. Saya berkesimpulan berdasarkan tafsir atas kode-kode itu, peristiwa itu terjadi pada pagi hari. Tapi saya tak yakin, seberapa pendek atau seberapa lama perempuan itu akan menunggu di sana.
Read more

Waiting #1

Akan tetapi apakah tema ‘menunggu’ ini dapat dibaca sebagai ‘narasi tentang kesabaran dan daya tahan’ seseorang terhadap apa yang ditunggu? Bukankah memang, persoalan menunggu adalah persoalan ‘daya tahan’ dan ujian tentang ‘kesabaran’?

Karya lukisannya yang bertajuk “Waiting I”, sesosok dalam pose duduk, tangan kanannya memegang sebatang rokok, dan pada kepalanya sudah bermetamorfosa menjadi jendela kayu, tampak kuno, catnya mengelupas, dan jerujinya (krepyak: sebutan di Jawa) sebagian lepas dan bolong. Warna dalam lukisan itu, termasuk figur yang menjadi jendela itu kemerahan.

Jendela tua itu juga tertutup, gestur tubuhnya seperti menyerah pasrah (nglokro: istilah Jawa). Dominasi kemerahan itu seperti akumulasi dari marah dan menyerah. Apakah karya ini mengisyaratkan tentang batas kesabaran, dan berujung pada kesia-siaan?
Read more

Meringkus Waktu oleh Suwarno Wisetrotomo

Meringkus Waktu ...!
Catatan: Suwarno Wisetrotomo

Aktivitas sederhana tetapi berdimensi sosial dan sekaligus spiritual, salah satunya adalah menunggu. Ya, menunggu. Wujud kerjanya sederhana – bisa duduk, berdiri, atau mondar-mandir diantara keduanya, dan segala bentuk eksresi lainnya – tetapi bisa berdampak kompleks, seperti perasaan marah, jengkel, lelah, bahkan frustrasi. Namun juga bisa berdampak positif seperti terbentuknya pribadi yang lebih matang, jiwa yang lebih kuat dan berkarakter, kesabaran yang lebih lapang, serta kesetiaan yang teruji. Kapan ia, menunggu itu, berdampak positif atau negatif, tentu sangat tergantung dari kualitas pribadi seseorang; apakah seseorang itu memiliki kemampuan mengelola emosi dengan baik, ataukah sebaliknya.


Aktivitas menunggu terkait erat dengan urusan waktu. Waktu itu konsisten, tak pernah merasa kurang atau lebih. Perbedaan hanya karena persoalan posisi geografis. Namun tak mengubah apapun, kecuali sekadar perbedaan antara wilayah yang satu dengan yang lainnya, yang membuat terjadinya selisih waktu. Maka, menunggu seperti bermain dan dimainkan oleh waktu dengan segenap tegangan. Dalam kehidupan masa kini tegangan itu di wakili oleh kehadiran arloji yang menunjukkan perubahan jam, yang menandakan durasi. Mula-mula dihitung dengan detik, kemudian menit, kemudian jam, yang kait mengkait dengan hari, bulan, tahun, dan abad.

Dalam aktivitas menunggu, maka arloji yang (umumnya) dikenakan di pergelangan tangan menjadi sasaran ekspresi si penunggu; entah menerima makian, entah terus-menerus dipelototi dengan muram, sambil memelihara kegelisahan. Atau sebaliknya, menunggu bisa melatih kesabaran dan mengikat kesetiaan. Aktivitas menunggu berada dalam ruang permainan yang menegangkan semacam itu.

Dari Tubuh ke Waktu
Tubuh adalah jazad yang terbatas. Puncaknya adalah kehancuran fisik setelah kematian. Tak ada yang tersisa kecuali kenangan (atas nilai-nilai) terhadapnya. Kapan semua itu terjadi, adalah urusan Sang Khalik Yang Maha Kuasa. Siapapun hanya mampu mengenang. Kenangan akan berkejaran dengan ingatan yang juga terbatas. Namun waktu berperan mengabadikan peran dan nilai yang pernah diperbuat oleh tubuh. Lebih dari itu, diperlukan tindakan untuk mengabadikan ingatan tersebut. Maka digubahlah sejumlah monumen yang substansinya adalah sebagai peringatan, sebagai kenangan. Meskipun akhirnya digunakan pula sebagai pengukuhan dan penegasan atas peran-peran seseorang yang merasa atau dianggap paling berjasa atau paling penting.

Tubuh sebagai subject matter para perupa, bukanlah hal baru. Karya-karya yang tertera dalam kitab-kitab suci seperti Bibel sudah mulai menghadirkan tubuh sebagai gambaran kenyataan, khususnya terkait nama dan peristiwa. Karya-karya era romantisisme, hingga era kontemporer seperti sekarang, tubuh tetap menjadi sumber penciptaan yang menggairahkan. Gagasan dan tendensi yang melatarbelakangi beragam gubahan itu juga berbeda-beda, terus bergerak, seiring dengan pergeseran zaman yang menggeser pula sikap dan pemaknaan terhadap tubuh.

Katirin (dilahirkan di Banyuwangi, 17 September 1968), pada karya-karya terbarunya mempersoalkan perihal “menunggu”. Seperti saya singgung dalam awal catatan ini, maka persoalan menunggu sangat terkait dengan “waktu”. Karya-karya ini akan menjadi materi utama dalam pameran tunggalnya di Galeri Tujuh Bintang Yogyakarta, April 2010.

Dalam waktu yang cukup lama, dengan kemampuan bentuk realistiknya yang memadai, Katirin dalam berkarya bertolak dari persoalan tubuh, terutama tubuh-tubuh perempuan. Sebab memang, tubuh perempuan memiliki kompleksitas yang memungkinkan untuk dieksplorasi dalam bahasa rupa; hampir dari setiap sisi dan lekuknya, memiliki potensi artistik. Meskipun sesungguhnya dalam melukis tubuh (perempuan), Katirin tidak sekadar ‘melukis model’, tetapi menghadirkan berbagai kemungkinan bentuk seliar-liarnya, bahkan yang tidak mungkin diperagakan oleh sang model.

Katirin terus menjelajah dunia tubuh. Tubuh dijadikan subject observasi, ditangkap kemungkinan-kemungkinan gesturnya, dan berupaya menangkap roh/auranya. Katirin tidak lagi menghadirkan kenyataan sang model (kenyataan tubuh perempuan), tetapi menghadirkan passion atas tubuh. Maka, meski tubuh-tubuh itu tampak erotis (karena gesturnya), sesungguhnya tidak lagi beridentitas kelamin secara pasti. Tubuh-tubuh itu adalah dunia pesona, gairah, kenikmatan, dan penjelajahan Katirin atas berbagai ‘kemungkinan’ yang bisa dilakukan atau diperagakan oleh tubuh (siapapun).

Kini, tubuh-tubuh menghadapi kenyataan yang fana: bergulat dengan waktu dan perubahan, serta keberakhiran. Setiap peristiwa akan berakhir. Dan, setiap akhir merupakan permulaan yang tak pernah bisa diduga atas apa yang akan terjadi. Pergeseran Katirin dapat dimaknai dalam perspektif semacam itu; yakni dari penghayatan atas fisik yang fana, ke persoalan waktu yang baka (abadi). Ia mempersoalkan tubuh dengan cara mengobservasi tubuh dirinya, atau tubuh orang lain (yang memiliki hubungan emosi atau jarak yang intim), untuk mengenali dan memahami, untuk kepentingan menjelaskan perihal menunggu dan waktu.
Meringkus Waktu

Problema yang muncul dalam aktivitas menunggu adalah munculnya hasrat yang besar untuk meringkus sang waktu; ingin mempercepat lajunya, atau (mungkin) ingin mempelambatnya. Ia, sang waktu, tak bisa ditipu, karena waktu tak pernah menipu. Waktu juga tak bisa disuap, agar memenuhi kehendak penggunanya. Waktu tetap setia, dan setia pula menjadi saksi atas semua yang terjadi. Kalaupun kita berhasil mempedaya laju jarum panjang dan pendeknya, dan jarum detiknya, atau bisa meremukkan tabung pasirnya, pada dasarnya yang berubah atau bahkan hancur hanyalah fisiknya. Tetapi esensinya (sang waktu) tetap tak bergeser sedetikpun. Bukankah dengan demikian justru kita yang akhirnya tertipu, atau dengan sangat bodoh kita sedang menipu dirinya sendiri?

Karya-karya Katirin yang terbaru dalam pameran kali ini, mengungkapkan perihal ‘menunggu’. Yang segera bisa ditangkap dari gejala visualnya adalah pose-pose atau gestur figur (simbolis) yang mencitrakan posisi menunggu. Ia juga melakukan eksplorasi material, tak hanya dengan cat dan kanvas, tetapi juga menggunakan kertas untuk menghasilkan tekstur, dan menggunakan kayu-kayu bekas untuk menggubah patung.
Akan tetapi apakah tema ‘menunggu’ ini dapat dibaca sebagai ‘narasi tentang kesabaran dan daya tahan’ seseorang terhadap apa yang ditunggu? Bukankah memang, persoalan menunggu adalah persoalan ‘daya tahan’ dan ujian tentang ‘kesabaran’? Karya lukisannya yang bertajuk “Waiting I”, sesosok dalam pose duduk, tangan kanannya memegang sebatang rokok, dan pada kepalanya sudah bermetamorfosa menjadi jendela kayu, tampak kuno, catnya mengelupas, dan jerujinya (krepyak: sebutan di Jawa) sebagian lepas dan bolong. Warna dalam lukisan itu, termasuk figur yang menjadi jendela itu kemerahan. Jendela tua itu juga tertutup, gestur tubuhnya seperti menyerah pasrah (nglokro: istilah Jawa). Dominasi kemerahan itu seperti akumulasi dari marah dan menyerah. Apakah karya ini mengisyaratkan tentang batas kesabaran, dan berujung pada kesia-siaan?

Penghayatan yang berbeda terdapat pada karya “Waiting II”; sesosok perempuan, yang dibagian kepalanya berbentuk arloji duduk dengan dua alrm di bagian atasnya, berbalut baju terusan kekuningan, duduk di bangku panjang berwarna merah. Sesosok itu duduk tepat di ujung bangku sebelah kanan, sementara arah bangku ke kiri seperti tak berujung (karena langsung habis di tepi kanvas). Bidang lukisan itu didominasi warna kebiruan. Absurditas dalam karya ini dibangun oleh kode yang berlapis-lapis; “arloji kepala” itu masih menunjukkan pukul 06.25. Gestur perempuan itu masih tampak semangat (mungkin baru saja duduk). Suasana tampak cerah; biru cerah, bangku merah yang cerah, juga baju kuning yang tampak terang. Saya berkesimpulan berdasarkan tafsie atas kode-kode itu, peristiwa itu terjadi pada pagi hari. Tapi saya tak yakin, seberapa pendek atau seberapa lama perempuan itu akan menunggu di sana.

Karya yang juga menghentak adalah karya-karya tiga dimensional, yang ia bentuk dengan pecahan kayu-kayu (kayu jati; tectonia grandis) bekas, mirip potongan-potongan kayu bakar, yang disusun atau ditata, membentuk figur-figur dalam bentuk atau gestur (pose) tengah menunggu (semua karya itu bertajuk “Waiting”). Karya-karya ini menjadi terasa pekat, karena menyerupai fosil; mengingatkan peristiwa menunggu yang lama, hingga diri ini terasa membeku, menjadi fosil, mengayu, menjadi kayu. Terdapat perasaan yang ringsek, yang rapuh, tampak berkeping-keping. Menunggu, disamping terasa absurd (perhatikan lukisan yang mengungkapkan kursi panjang, atau karya tiga dimensional yang duduk di sebuah kursi panjang tanpa ujung), juga berpeluang menjadi sang korban.

Katirin kembali menghadirkan ‘kenyataan’ menunggu yang membeku; sesosok samar-samar berwarna kekuningan, duduk dikursi kayu berwarna merah, dengan wajah yang loyo. Perhatikan kedua kakinya; sudah mengayu – menjadi kayu – dan menyatu ke dalam kaki kursi. Warna pastel yang mengitarinya, menambah suasana nglangut. Sudah berapa lama ia menunggu di kursi itu? Karya itu tentang kesabaran, kenaifan, atau kesetiaan?

Katirin juga bergurau, atau tepatnya meledek tentang saat-saat menunggu. Karyanya “Waiting Presiden Call”, seperti menyindir ritual lima tahunan, ketika banyak orang yang merasa penting dan mampu, menunggu telpon dari Istana, siapa tahu ditunjuk menjadi “pembantu” Presiden. Sesosok perempuan, duduk dengan gestur seronok, jari-jari tangan kanan menjepit sebatang rokok, tangan kiri menopang dagu, tetapi bentuk seluruh kepala itu sudah menjadi pesawat telepon. Apakah Katirin menyembunyikan ‘komentar sosial’ dalam karya itu? Jangan-jangan sejumlah orang yang merasa penting dan mampu, dan akhirnya benar-benar menerima telepon dari Presiden, tak lebih hanya mereka yang sesungguhnya ‘seronok’ kualitasnya? Dapat dibayangkan, betapa sepanjang waktu, isi kepala seseorang itu hanya tentang telepon.

Lalu apa yang terjadi dengan “ditunggu”? Subyek pelaku antara yang “menunggu” dan yang “ditunggu” berbeda secara tajam. Menunggu adalah pengalaman “penderitaan”, sementara “ditunggu” adalah pengalaman kekuasaan. Ia, sebagai sang “ditunggu” memiliki kuasa ‘memainkan’ pihak yang “menunggu”; yang berakhir mengecewakan atau membahagiakan. Karya “Coming Home” bagi saya menyodorkan pengalaman semacam itu; tegangan yang berbeda antara yang menunggu dan yang ditunggu, dan berujung pada pertemuan. Seseorang tengah pulang (mengayuh sampan) ingin segera menemui seseorang yang memeluk rindu dalam pose teronggok di balkon rumahnya.

Kegembiraan yang meluap juga sebuah momentum yang ditunggu-tunggu. Karya “Euphoria” yang melukiskan kerumunan, dengan ekspresi bingar. Perhatikan tulisan didinding itu, Great Sale. Sedang ada obral besar, dan Katirin membidiknya dari sisi dalam. Spirit memburu obral besar, adalah spirit yang ada dalam kondisi menungu-nunggu. Dalam kata great sale, terkonstruksi makna murah. Itulah mantra kapitalisme, sebagai bagian dari jurus bujuk rayu kepada konsumken. Maka, bagi sang konsumen, great sale adalah momentum kegembiraan untuk melampiaskan syahwat konsumsinya.

Terdapat tiga karya lainnya yang ingin saya soroti, meski tidak mengisyaratkan tema yang sama (menunggu), tetapi menyimpan narasi tentang waktu. Karya “building Memory”; dua orang lawan jenis tengah berciuman, sembari memegang penggaris lipat (meteran: Jawa) yang dibentuk menyerupai rumah. Sebuah kisah tentang upaya merajut mimpi, membangun sarang tempat menampung segala ingatan.

Dua karya lainnya; “The Thinker I”; sesosok dengan pose pemikir (mengolah karya patung terkenal dengan judul yang sama oleh Auguste Rodin, 1840-1917), namun berkepala merpati (kebebasan?). Kemudian karya “The Thinker II”; sesosok dalam pose duduk, tengah memegang kepalanya yang sudah menjadi batu (persoalan yang begitu berat, keras?). Ketiga karyan yang saya singgung terakhir ini menunjukkan kekuatan Katirin dalam menyampaikan narasi yang puitis.

Pameran ini lebih menampakkan pergulatan kesenian seorang Katirin dalam menjelajah dan mengobservasi tubuh dalam ruang dan waktu. Menunggu hanyalah sepenggal peristiwa, dari rangkaian waktu yang sesungguhnya mengisyaratkan tentang kesementaraan tubuh. Upaya-upaya untuk meringkus waktu, sesungguhnya hanya akan mubazir. Kecuali jika upaya itu ditujukan untuk berpacu dengan memberinya makna. Tubuh sesungguhnya fana. Dan, nilai-nilai lah yang abadi.

Suwarno Wisetrotomo
Kritikus Seni Rupa.
Dosen di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.
Read more

Katirin Meringkus Waktu

Manusia dalam kehidupan sehari-hari merupakan rangkaian gerak-gerik sepanjang pergulatannya dengan hidup. Hidup yang tak pernah terdefinisikan dan senantiasa luput dari genggaman pemahamannya, maka kepada setiap manusia selalu saya temukan perasaan ketidakberdayaan tetapi sekaligus juga rasa kesanggupan untuk menempuh itu dengan ikhlas dan semua itu bagi diri saya sungguh memukau dan penuh misteri.

Berangkat dari itu saya mencoba untuk menuangkan ini ke dalam lukisan dengan tetap membiarkan sebagian terbungkus dengan misteri. Sesungguhnya realita tak pernah telanjang dan selalu terbingkai oleh narasi yang rumit dan panjang. Maka saya menolak setiap ilusi yang mengaku telah mampu memindahkan seluruh realita ke dalam visualisasi, ia tak pernah nyata kecuali samar-samar.

Pemahaman kata terhadap obyek adalah perjalanan jauh saya dalam “diam” sehingga sepanjang itu saya seperti sedang menelusuri mata dan lekukan batin sendiri untuk menangkap makna yang hanya bisa digapai dengan mengembangkan segenap rasa simpati dan melibatkan diri dengan seluruh emosi.

Berangkat dari sumber itu saya mencoba memberiakan sebagian kekuatan dan tenaga pada obyek-obyek saya lewat sapuan, warna, garis, tekstur dan goresan untuk menghantar pada “sesuatu” yang jauh dan tak terperi itu, selebihnya membiarkan ia berbicara sendiri.

Selengkapnya silakan di apresiasi di :
Tujuh Bintang Art Space
Jl. Sukonandi 7 Yogyakarta
Tanggal 17 April - 2 Mei 2010
Read more

Menikmati Setan Berkepala Kelinci

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Masa lalu yang hitam kelam tak selamanya terekspresikan secara buram. Perupa Oky Rey Montha Bukit alias Kyre, 24 tahun, mengungkap kisah getir masa lalunya justru dalam bentuk lukisan bergaya komikal dengan warna-warna cerah. Ekspresi kemarahannya dipersonifikasikan ke dalam figur kelinci yang lucu.

“Setan-setan Berkepala Kelinci” karya Kyre ini bisa disaksikan dalam pameran tunggalnya bertajuk Evorah (Evil of Rabbit Head) di Tujuh Bintang Art Space, Yogyakarta, mulai besok hingga 13 April mendatang. Tak hanya menampilkan belasan karya dua dimensi, Kyre juga menghadirkan karya tiga dimensi berupa kereta-kereta terbang bertanduk yang acap muncul dalam lukisan-lukisannya.

Mahasiswa semester VIII jurusan Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, ini memang punya masa lalu yang kelam pada masa kanak-kanak saat masih tinggal bersama orangtuanya di Sumatera Utara. Sebagai anak sulung, ia harus kehilangan masa kanak-kanaknya untuk mengurus dua adiknya. Waktunya hampir habis untuk mengurusi kelinci, hewan piaraan adik-adiknya.

Tak hanya kehilangan masa kanak-kanak, Kyre juga sering mengalami kekerasan fisik. “Susah diceritakan sejauh mana kisah getir masa lalu saya. Yang jelas, sudah dalam bentuk (kekerasan) fisik,” katanya kepada Tempo.

Toh Kyre tak mau masa lalunya yang kelam itu muncul kembali ke atas kanvas. Pada karyanya yang berjudul Trip of Trap, misalnya, Kyre menghadirkan “setan berkepala kelinci” sedang mengendalikan kereta terbang bertanduk rusa dengan penumpang seorang gadis berkacamata. Kereta itu melintas di atas ombak menuju sebuah jebakan. Meski terasa getir, bentuk visualnya tetap terasa indah dengan pilihan warna-warna cerah.

Juga karya lain, Between Luck, Faith, and Dangerous yang mengisahkan tentang pertarungan hidup yang berbahaya, namun tetap indah dipandang. “Meski setan, kalau berkepala kelinci akan tereduksi wujud dan watak seramnya. Mungkin itulah yang akan dikatakan Kyre bahwa dirinya tetap manis, lucu, menggemaskan bak kelinci meski menyimpan nafsu seram,” tulis kurator Soewarno Wisetrotomo dalam katalog pameran.

Ihwal lukisannya yang terkesan ceria dengan pilihan-pilihan warna cerah, Kyre punya pengakuan tersendiri. “Saya ingin menciptakan dunia baru. Boleh dikatakan pelarian saya dari kenyataan,” ujarnya menjelaskan.

Menurut kurator Soewarno Wisetrotomo, karya-karya dengan genre komik seperti yang dilakukan Kyre ini sebenarnya sudah banyak dilakukan perupa lain, baik di dalam negeri seperti Bambang Toko Wicaksono, Uji Hahan Handoko dan Terra Bajraghosa, maupun perupa luar negeri seperti Bae Yoo Hwan dari Korea serta Jinten Tukral dan Sumir Tagra dari India. Namun, apa kata Kyre tentang pilihan gaya komikalnya? “Sejak kecil saya menikmati komik, menikmati kisah-kisah yang tidak nyata,” katanya.

Evil of Rabbit Head, tulis Soewarno Wisetrotomo dalam kuratorial pameran, adalah ekspresi umpatan, ledekan, gumam, dan gurauan Kyre menyikapi masa lalunya yang getir dan kelam. “Evorah (Evil of Rabbit Head” juga menjadi judul sebuah novel karya Sukma Swarga Tiba. Novel 33 halaman kwarto ini juga bertolak dari riwayat Kyre. Sukma Swarga Tiba tak lain adalah pacar Kyre.

Heru CN
Read more

Pameran Seni Rupa EVORAH

Evil of Rabbit Head
Waktu: 01 – 13 April 2010

Tempat: Tujuh Bintang Art Space, Jalan Sukonandi No. 7, Yogyakarta

Masa lalu yang hitam kelam tak selamanya terekspresikan secara buram. Perupa Oky Rey Montha Bukit alias Kyre, 24 tahun, mengungkap kisah getir masa lalunya justru dalam bentuk lukisan bergaya komikal dengan warna-warna cerah. Ekspresi kemarahannya dia personifikasikan ke dalam figur kelinci yang lucu.

“Setan-setan Berkepala Kelinci” karya Kyre ini bisa disaksikan dalam pameran tunggalnya bertajuk Evorah (Evil of Rabbit Head) di Tujuh Bintang Art Space, Yogyakarta, mulai hari ini hingga 13 April mendatang. Tak hanya menampilkan belasan karya dua dimensi, Kyre juga menghadirkan karya tiga dimensi berupa kereta-kereta terbang bertanduk yang acap muncul dalam lukisan-lukisannya.

dari Tempo Interaktif

Read more
 

Tujuh Bintang Blog Design by Insight © 2009