Monday, November 23, 2009

Seniman Wonosobo Gelar Pameran Face to Face

Salah Satu Lukisan Yang Dipamerkan Foto : Firha
YOGYA (KRjogja.com) - Beberapa seniman asal Wonosobo yang tergabung dalam Komunitas Air Gunung mengelar pameran bertajuk Face To Face yang menampilkan pulahan karya lukisan. Pameran yang telah dibuka sejak tanggal 21 November dan akan berlangsung hingga 5 Desember 2009 mendatang. Karya-karya seniman Wonosobo ini jelas mengambil jalur representasional dan menghadapi karya-karya lukisan semacam itu penonton diajak untuk menyelami makna berdasarkan elemen-elemen yang muncul di kanvas lalu dihimbau untuk mencari acuan-acuan referensial yang umum.

"Yang patut dihargai dari para pelukis Wonosobo ini adalah pilihannya untuk menggunakan teknik representasional melalui cara kerja melukis realistik. Kita ingat bahwa dalam seni rupa atau seni visual secara umum lazim dikenal pembedaan antara jenis seni rupa representasional dengan seni rupa non-representasional. Seni rupa representasional lahir dari kemungkinan visual yang berkaitan dengan dunia yang nampak dan berada di luar diri si seniman, penampilan dari dunia eksterior sehingga pembacaan atasnya tak dapat dilepaskan dari bagaimana proses terbentuknya kenyataan yang ditampilkan tersebut," ujar Kurator pameran Peace Face to Face, Wicaksono Adi saat ditemui di Tujuh Bintang Art Space, Jalan Sukonandi No 7 Yogyakarta, Senin (23/11)

Selanjutnya Wicaksono menjelaskan tentang suatu karya artistik di mana proses pemaknaannya masih dapat dikaitkan secara langsung maupun tidak langsung dengan sesuatu yang kurang lebih “objektif” - sekalipun kenyataan “objektif” tersebut telah mengalami deformasi - tapi ia masih dapat diidentifikasi dengan dunia eksterior. "Gampangnya, seni rupa representasional adalah suatu seni yang memiliki “objek”, seperti gambar dari hasil bidikan kamera yang memotret sasaran sasaran tertentu di luar dirinya. Ia dapat membidik dan merefleksikan apa saja kecuali dirinya sendiri,"katanya.

Berbeda dengan seni rupa representasional, seni non-representasional dapat ditandai minimal oleh dua hal. Pertama, ketiadaan objek yang merupakan akibat dari ketiadaan objek ini maka kamera tidak mungkin diarahkan ke dunia eksterior, melainkan cenderung ditujukan kepada dirinya, pada wilayah interior. Kedua, karena kamera mengarah ke wilayah interior maka hal itu akan menghilangkan syarat munculnya persepsi, sehingga persepsi akan bermain dalam wilayah fenomenologis “tertentu”. Dikatakan “tertentu” karena setiap persepsi mengandaikan adanya objek, sementara jika objek itu tidak ada, maka ia akan menjadikan dirinya menjadi sasaran perseps dan disitu kita mengenal karya-karya seni rupa abstrak dan abstrak-ekspresionistik.

"Orang mengenal Bill Gates sebagai kampiun dunia komputer, Gandhi, Dalai Lama dan Aung San Suu Kyi sebagai pejuang kemanusiaan. Kita diajak untuk memberi makna baru dari acuan tersebut melalui elemen-elemen tambahan yang dilekatkan di sana. Ada elemen hijau daun rerumputan pada wajah Bill Gates dan Suu Kyi, ada batu-batu yang menyusun wajah Gandhi, gambar cicak yang menggambarkan kekonyolan sirkus hukum yang dipertontonkan sebagian elite di Indonesia yang akhir-akhir ini poluler dengan ungkapan ”buaya melawan cicak”, pada lukisan Mr. Bean, dan seterusnya. Selain lukisan berobjek individu-individu besar, kita juga menemukan lukisan yang menggambarkan dunia jungkir balik kota besar yang agak menakutkan," pungkas Wicaksono. (Fir)

Peace | FaceToFace

Pesan pesan dunia yang masih damai seniman Wonosobo

Wajah Bill Gates dengan latar belakang yang digambar Ahmad Ghovir dalam judul "Gates On Grass".

Judul tulisan ini, ingin menunjukkan pameran seni kontemporer kelompok seniman Wonosobo yang sedang berpameran di ibukota seni rupa Indonesia, Yogyakarta. Sebanyak 19 seniman Wonosobo sejak 21 November-5 Desember 2009 memamerkan karya-karya lukisnya di Tujuh Bintang Art Space.

Seniman Wonosobo seperti ingin memperlihatkan sinyal-sinyal eksistensi berkesenian dalam tema “Peace/ Face To Face” kepada publik Yogyakarta. Apa yang mereka tampilkan dalam dua puluhan karya lukis yang mereka pamerkan ini, menunjukkan Wonosobo boleh saja menjadi daerah kecil tapi menyimpan potensi karya seni rupa yang tidak kalah dengan kota lain seperti “kota besar seni rupa”, Yogyakarta.

Lihat saja sosok-sosok internasional yang ditampilkan dalam lukisan-lukisan para seniman Wonosobo ini seperti Bill Gates, Dalai Lama, Lady Di dan Aung San Syu Kyi. Ada lagi sosok artis seperti Merlyn Monroe, aktris Hollywood dari China Zhang Zi Yi, Mr. Bean, dan Michael Jackson.

Lukisan sosok Dalai Lama karya Arianto dalam judul "The New Leader"

Lukisan sosok Dalai Lama karya Arianto dalam judul "The New Leader"

Para seniman Wonosobo ini juga menampilkan realitas-realitas global seperti penyerangan terhadap mantan Presiden Amerika Serikat (AS) dengan menggunakan sepatu oleh seorang wartawan Irak. Ada juga realitas anak-anak Palestina yang terjebak dalam perang hasil permainan politik global.

Sosok internasional atau realitas satir global tersebut menunjukkan atau bahkan mewakili dari kondisi well informed masyarakat Wonosobo. Sebuah kondisi yang sering kali diidentikan milik masyarakat kota besar.

Secara teknis, karya seni lukis seniman-seniman Wonosobo ini juga patut diacungi jempol. Kurator pameran, Wicaksono Adi mengatakan, teknis berkarya yang ditampilkan dalam pameran ini bagus dan potensial untuk dikembangkan.

Lukisan karya Ahmad Ghovir berjudul "Portrait of Zhang Zi Yi"

Lukisan karya Ahmad Ghovir berjudul "Portrait of Zhang Zi Yi"

Hal yang patut dihargai adalah teknik representasional melalui cara kerja melukis realistis. Representasional adalah wujud-wujud visual yang berkaitan dengan dunia yang nampak dan berada di luar diri seniman.

Artinya, seniman-seniman Wonosobo telah masuk dalam realitas zaman kontemporer. “Mereka bekerja dengan menyusun berbagai serpihan teks (visual) menjadi karya baru,” ujar Adi.

“Jika jaman dulu pelukis menggambar obyek harus berhadapan langsung dengan apa yang di gambar, sekarang ia dapat memungut bahan-bahan dari mana saja dari majalah atau internet dan mengubahnya dengan potongan gambar lain,” jelas kurator yang tinggal di Jakarta ini.

salah seorang pengunjung pameran menyaksikan lukisan Merlyn Monroe dalam judul "Fatal Atraction"

salah seorang pengunjung pameran menyaksikan lukisan Merlyn Monroe dalam judul "Fatal Atraction"

Dipilihnya Yogyakarta oleh seniman-seniman Wonosobo karena alasan-alasan positif tentang kondusifnya dunia seni rupa Yogyakarta bagi seniman-seniman muda Wonosobo ini. Manajer kelompok seniman Wonosobo ini, Agus Muryanto mengatakan Yogyakarta telah menjadi tolak ukur (barometer) berkesenian dan berkebudayaan.

“Yogyakarta mempunyai banyak perupa-perupa hebat sehingga bisa menjadi bahan eksplorasi, sekaligus bisa memberi masukan seniman Wonosobo, ” kata Agus sembari menambahkan, pihaknya ingin menjalin kerjasama lebih erat dengan Tujuh Bintang Art Space sebagai galeri yang sangat intens memamerkan karya seni rupa.

Pertanyaan yang muncul adalah kenapa mereka melukis para tokoh yang nun jauh disana dan tidak melukis manusia-manusia yang mereka kenal dekat?

seorang pengunjung sedang mengabadikan dirinya bersama karya lukis milik Anton Hardiyono berjudul " Untungnya Aiswarya Rai Bukan Caddy Golf"

seorang pengunjung sedang mengabadikan dirinya bersama karya lukis milik Awi Ibanetza dalam judul " Jlo With Batik"

Bagi Adi, realitas atau persoalan global bisa didekati dengan sentuhan berbeda yang lebih dekat dengan kehidupan sekitar. Realitas dalam lukisan harus didekatkan dengan Wonosobo. Seandainya harus menggunakan sosok-sosok impor bisa saja diganti dengan figur lokal semisal KD atau Rhoma Irama.

“Yang perlu dipertanyakan adalah pengayaan idenya. Harus didekatkan dengan sentuhan berbeda. Ini yang belum nampak,” kritik Adi. “ KD dengan Bill Gates bagi warga Wonosobo lebih terkenal mana? KD,” ujarnya lagi.

Menurut Wicaksono Adi, penggambaran tokoh-tokoh besar seperti Bill Gates dalam “Gates on Grass” atau Dalai Lama dalam”The New Leader serta Lady Di dalam “Remembering Ladi Di” adalah sebagai upaya mengawetkan ingatan kita terhadap individu luar biasa yang dapat mengubah sejarah (dalam derajat berbeda-beda).

Beberapa pengunjung menikmati karya lukis Anton Hadiyono berjudul " Untungnya Aiswarya Ray Bukan Caddy Golf"

Beberapa pengunjung menikmati karya lukis Anton Hadiyono berjudul " Untungnya Aiswarya Ray Bukan Caddy Golf"

Bill Gates yang digambar dengan rerumputan mengandung makna ekologis baru yang ditampilkan perupa Wonosobo. Belum ada yang menggambar seperti itu. Bill Gates adalah tokoh besar dunia yang mendonasikan 40 Persen penghasilannya untuk orang lain. “Ini adalah sesuatu yang besar. Sesuatu yang positif,” ujar Adi

Teks visual ironi yang tajam muncul pada lukisan Arianto yang menggambarkan tokoh kemanusiaan Dalai Lama yang mengenakan topi Mao Zedong dan memegang sebutir peluru. Lukisan ini begitu jelas ingin menunjukkan perbedaan antara nilai-nilai perdamaian yang diperjuangkan Dalai Lama melaluai kelembutannya dengan sikap militerisme pemerintah China sebagai ‘lawan” si pejuang.

“Sebagian dari individu itu memang telah mati tapi mereka harus tetap dihidupkan agar nilai-nilai yang diperjuangkan tidak lenyap tertimbun hingar bingar citra visual yang datang dan pergi begitu cepatnya,” ujar Adi.

Karya lukis berjudul "Palestine" yang diciptakan Romadhon.

Karya lukis berjudul "Palestine" yang diciptakan Romadhon.

Boleh jadi akan tampak sia-sia ketika menciptakan nilai-nilai ditengah banjir informasi yang remeh temeh. Namun setiap orang memerlukan pahlawannya sendiri-sendiri. Dan pahlawan itu tidak hanya dilahirkan tapi juga harus diciptakan dengan mereproduksi dan mempromosikan secara berkelanjutan agar tidak lenyap dari memori kolektif.

Dan perupa-perupa dari Wonosobo yang berpameran itu tampak begitu cerdas membuat sesuatu, berupa tokoh, selebritis, realitas sosial global, agar memiliki arti dan makna.

Mereka mengajak kita untuk melihat kembali bahwa dunia kita tak sesuram yang disangka sebagian orang karena masih ada individu-individu besar yang terus dapat kita jadikan inspirasi, tulis Wicaksono Adi. (The Real Jogja/joe)

Lukisan "RIP" karya Wuryantoro

Lukisan "RIP" karya Wuryantoro

dari JogjaNews


Wednesday, November 18, 2009

Pers Release Peace | FaceToFace

PEACE | FACETOFACE
Pameran Komunitas Air Gunung

Kurator :
Wicaksono Adi
Pembukaan :
Sabtu, 21 Nopember 2009 pukul 19:30
Dibuka Oleh :
Syakieb A. Sungkar
Tempat :
Tujuh Bintang Art Space
Jl. Sukonandi 7 Yogyakarta 55166
Musik :
Rames Band & Primitive Democration
Performance :
Fashion Show “Batik Kembang Keli”
Batik Kertek Wonosobo
Karya Yohanes Wiera
Pameran :
Tanggal 21 Nopember – 5 Desember 2009 - pukul 10:00 – 20:00 WIB
------------------------------------------------------------------------------------------

Yang patut dihargai dari para pelukis Wonosobo ini adalah pilihannya untuk menggunakan teknik representasional melalui cara kerja melukis realistik. Kita ingat bahwa dalam seni rupa atau seni visual secara umum lazim dikenal pembedaan antara jenis seni rupa representasional dengan seni rupa non-representasional. Seni rupa representasional lahir dari kemungkinan visual yang berkaitan dengan dunia yang nampak dan berada di luar diri si seniman, penampilan dari dunia eksterior sehingga pembacaan atasnya tak dapat dilepaskan dari bagaimana proses terbentuknya kenyataan yang ditampilkan tersebut. Yaitu suatu karya artistik di mana proses pemaknaannya masih dapat dikaitkan secara langsung maupun tidak langsung dengan sesuatu yang kurang lebih “objektif” - sekalipun kenyataan “objektif” tersebut telah mengalami deformasi - tapi ia masih dapat diidentifikasi dengan dunia eksterior. Gampangnya, seni rupa representasional adalah suatu seni yang memiliki “objek”, seperti gambar dari hasil bidikan kamera yang memotret sasaran sasaran tertentu di luar dirinya. Ia dapat membidik dan merefleksikan apa saja kecuali dirinya sendiri.

Berbeda dengan seni rupa representasional, seni non-representasional dapat ditandai minimal oleh dua hal. Pertama, ketiadaan objek. Akibat dari ketiadaan objek ini maka kamera tidak mungkin diarahkan ke dunia eksterior, melainkan cenderung ditujukan kepada dirinya, pada wilayah interior. Kedua, karena kamera mengarah ke wilayah interior maka hal itu akan menghilangkan syarat munculnya persepsi, sehingga persepsi akan bermain dalam wilayah fenomenologis “tertentu”. Dikatakan “tertentu” karena setiap persepsi mengandaikan adanya objek, sementara jika objek itu tidak ada, maka ia akan menjadikan dirinya menjadi sasaran persepsi. Di situ kita mengenal karya-karya seni rupa abstrak dan abstrak-ekspresionistik.

Karya-karya seniman Wonosobo ini jelas mengambil jalur representasional. Dan menghadapi karya-karya lukisan semacam itu penonton diajak untuk menyelami makna berdasarkan elemen-elemen yang muncul di kanvas lalu dihimbau untuk mencari acuan-acuan referensial yang umum. Orang mengenal Bill Gates sebagai kampiun dunia komputer, Gandhi, Dalai Lama dan Aung San Suu Kyi sebagai pejuang kemanusiaan. Kita diajak untuk memberi makna baru dari acuan tersebut melalui elemen-elemen tambahan yang dilekatkan di sana. Ada elemen hijau daun rerumputan pada wajah Bill Gates dan Suu Kyi, ada batu-batu yang menyusun wajah Gandhi, gambar cicak (yang menggambarkan kekonyolan sirkus hukum yang dipertontonkan sebagian elite di Indonesia yang akhir-akhir ini poluler dengan ungkapan ”buaya melawan cicak”) pada lukisan Mr. Bean, dan seterusnya. Selain lukisan berobjek individu-individu besar, kita juga menemukan lukisan yang menggambarkan dunia jungkir balik kota besar yang agak menakutkan (Metropolis, karya Agus Handoko).

More info :
www tujuhbintang.com